Masih Berotot, Rupiah Dibuka Menguat 0,14% di Senin Pagi

Rupiah menguat pada perdagangan Senin (30/11) - www.beritasatu.com

JAKARTA – sanggup melanjutkan tren positif saat mengawali Senin (30/11). Menurut catatan Index pada pukul 09.01 WIB, Garuda membuka transaksi dengan menguat 20 poin atau 0,14% ke level Rp14.070 per AS. Sebelumnya, spot berakhir naik 10 poin atau 0,07% di posisi Rp14.090 per AS pada hari Jumat (27/11) kemarin.

“Rupiah kemungkinan akan dibuka fluktuatif pada pembukaan perdagangan pekan ini, setelah ditutup di zona hijau pada penutupan perdagangan akhir pekan lalu,” papar Direktur Utama TRFX Garuda Berjangka, Ibrahim, dikutip dari Bisnis. “Namun, rupiah mungkin ditutup menguat 5 sampai 70 poin ke Rp14.090 hingga Rp14.1330 per dolar AS.”

Menurut Ibrahim, ada sejumlah sentimen yang memengaruhi pergerakan nilai tukar, antara lain kemajuan pembicaraan Brexit antara Inggris dan Uni Eropa (UE) dan optimisme atas beberapa pengembang Covid-19, termasuk Pfizer Inc dan Moderna Inc, yang mengumumkan hasil positif selama 2 pekan terakhir.

“Dari dalam negeri, tengah optimistis dengan upaya Indonesia dalam mendapatkan vaksin Covid-19,” sambung Ibrahim. “Kalau memang benar Indonesia akan mendapatkan vaksin lebih awal maka, ada harapan besar bisa pulih lebih cepat ketimbang negara-negara lain. Mengutip riset Goldman Sachs Global Investment Research, vaksinasi yang lebih cepat bisa membuat pertumbuhan Indonesia mencapai lebih dari 6% tahun depan.”

Namun, menurut analisis CNBC Indonesia, mata uang domestik berpotensi mengalami pelemahan pada transaksi hari ini. Pasalnya, tanda-tanda depresiasi rupiah sudah tampak di pasar Non-Deliverable Market (NDF). NDF adalah instrumen yang memperdagangkan mata uang dalam jangka waktu tertentu dengan patokan kurs tertentu pula, dan seringkali memengaruhi psikologis pembentukan di pasar spot.

Sekadar informasi, sepanjang kuartal III 2020, nilai tukar rupiah relatif tetap terkendali di tengahnya tingginya tekanan pada Agustus sampai September kemarin. Mata uang Garuda menguat 1,53% secara rerata dibandingkan dengan triwulan sebelumnya, walaupun melemah 4,2% secara point-to-point, yang dipicu kekhawatiran gelombang kedua virus , prospek pemulihan ekonomi global, dan tensi antara AS dan Tiongkok.

Loading...