Maret Catatkan Deflasi, Rupiah Justru Terpuruk di Akhir Dagang

rupiah melemah

Indonesia yang mencatatkan pada bulan Maret 2017 ternyata belum mampu membuat rupiah melenggang di awal pekan (3/4) ini. Menurut laporan Index pukul 15.59 WIB, mata uang Garuda mengakhiri transaksi hari ini dengan pelemahan 3 poin atau 0,02% ke level Rp13.325 per .

Rupiah membuka perdagangan dengan sangat tipis, 1 poin atau 0,01% ke posisi Rp13.323 per dolar AS. Istirahat siang, mata uang Garuda sempat berbalik menguat 6 poin atau 0,05% ke level Rp13.316 per dolar AS. Namun, jelang penutupan atau pukul 15.49 WIB, spot kembali terdepresiasi 3 poin atau 0,02% ke posisi Rp13.325 per dolar AS, yang bertahan hingga akhir dagang.

Siang tadi, Badan Pusat Statistik () melaporkan bahwa Indonesia mencatatkan deflasi sebesar 0,02% pada bulan Maret 2017. Sementara, inflasi tahun kalender sebesar 1,19% dan year-on-year mencapai 3,61%. “Deflasi Maret 2017 adalah sebesar 0,02% dan ini agak di luar dugaan. Pasalnya, Bank Indonesia dan ekonom menduga terjadi inflasi rendah,” jelas Kepala , Suhariyanto.

Ada beberapa faktor yang ikut andil dalam menyumbangkan deflasi. Pertama, bahan dengan andil deflasi sebesar 0,14%, di antaranya cabai merah, beras, penurunan harga cabai rawit, ikan segar, telur ayam ras, dan bawang putih. Kemudian, sektor transportasi, komunikasi, dan jasa keuangan juga andil menyumbangkan deflasi sebesar 0,03%.

Sebelumnya, para pengamat memang memprediksi bahwa Indonesia akan kembali mencatatkan inflasi sebesar 0,15% di bulan Maret 2017. Prediksi tersebut dipicu kenaikan harga barang-barang yang diatur pemerintah (administered price). Namun, meski mengalami inflasi, prediksi tersebut masih lebih rendah dari realisasi inflasi bulan Februari 2017 yang sebesar 0,23%.

Sayangnya, sentimen domestik tersebut belum bisa mengatrol pergerakan rupiah karena indeks dolar AS terus bergerak menguat didorong data ekonomi Paman Sam yang membaik dan juga komentar dari pejabat Federal Reserve yang menyatakan bahwa suku bunga bisa naik lebih dari satu kali pada tahun ini. The greenback pun bertahan di atas level 100 hingga Senin siang.

“Dolar AS mendapat dukungan setelah pekan lalu tertekan karena pelaku pesimis terhadap kemampuan Donald Trump dalam mengendalikan senat,” ujar Analis Daiwa Securities, Mitsuo Imaizumi. “Pekan ini, keuangan menunggu data non-farm payrolls yang dirilis Jumat (7/4) mendatang. Jika lebih buruk dari yang diharapkan, akan menekan dolar.”

Loading...