Manufaktur Meningkat, Pasar Tenaga Kerja di ASEAN Masih ‘Diperketat’

Manufaktur - indutrial-engineering.blogspot.co.id

HONG KONG – Sektor di mengalami peningkatan di bulan Agustus 2017, yang didorong oleh pemulihan yang terus berlanjut dalam global. Meski demikian, para ekonom skeptis bahwa tersebut akan segera naik dalam waktu dekat mengingat tenaga kerja masih cenderung ‘diperketat’.

Menurut yang dilakukan Nikkei, delapan dari 12 ekonom menyatakan bahwa manufaktur di ASEAN akan mengalami peningkatan. Sebelumnya, Purchasing Manager Index sektor manufaktur di ASEAN menurut Nikkei rebound ke angka 50,4 di bulan Agustus dari angka 49,3 di bulan sebelumnya, yang meliputi aktivitas di Filipina, Myanmar, Vietnam, Indonesia, Thailand, Malaysia, dan Singapura.

Kemajuan ini sebagian besar didukung oleh pesanan dan output yang lebih kuat, yang mulai berkembang sejak bulan lalu. Vietnam memimpin paket tersebut dengan angka 51,8 di bulan Agustus. Malaysia juga mencatat ekspansi karena asing yang sehat guna mengimbangi yang menyusut. Sementara, Indonesia juga membentur garis kontraksi, yang dimulai pada bulan Juni, karena permintaan luar negeri berbalik menguat. Sub-reading negara pada pesanan baru mencapai 53,4 pada Agustus.

Tetapi, para ekonom skeptis bahwa inflasi daerah akan segera naik dalam waktu dekat mengingat pasar tenaga kerja masih harus diperketat. “Peningkatan permintaan mungkin tidak memperluas lapangan kerja dalam jangka pendek karena sektor ini masih berjuang dengan kapasitas cadangan yang berkelanjutan,” kata ekonom utama di IHS Markit , Bernard Aw.

“Jaminan kerja di antara produsen Asia Tenggara tetap pada tren menurun yang terus berlanjut yang dimulai sejak bulan Juli 2014,” sambung Aw. “Perusahaan masih akan mempertahankan pendekatan yang hati-hati ketika melakukan perekrutan staf baru. Kepercayaan bisnis di bulan lalu juga masih di bawah rata-rata, meski membaik dibandingkan bulan Juli.”

Sementara itu, ekonom senior Maybank Kim Eng, Chua Hak Bin, menambahkan bahwa pemulihan manufaktur ini dipimpin oleh ekspor yang meluas dan didukung belanja konsumen. Pemulihan manufaktur ini, yang dipimpin oleh produk elektronik, memiliki momentum yang akan bertahan sampai awal 2018, disokong support dari pasar China dan AS.

“Namun, pemulihan permintaan konsumen ASEAN mungkin lebih lemah daripada siklus sebelumnya karena beberapa alasan,” imbuhnya. “Misalnya, tingginya utang rumah tangga di Thailand dan Malaysia; lemahnya pekerjaan dan pertumbuhan upah di Thailand, Singapura, Indonesia, dan Filipina; subsidi yang lebih rendah di Indonesia, Thailand, dan Malaysia; pemulihan komoditas yang tidak merata dan tidak stabil; serta meningkatnya ‘kehati-hatian’ di Indonesia.”

Loading...