Aktivitas Manufaktur AS Naik, Rupiah Ditutup Melemah

Rupiah - waspada.co.idRupiah - waspada.co.id

JAKARTA – akhirnya harus puas terbenam di area merah pada Selasa (2/3) sore ketika terus menguat di tengah kabar bahwa aktivitas manufaktur AS meningkat ke posisi tertinggi tiga tahun. Menurut Index pada pukul 14.58 WIB, Garuda ditutup melemah 70 poin atau 0,49% ke level Rp14.325 per AS.

Sementara itu, data yang diterbitkan Bank Indonesia pukul 10.00 WIB menempatkan acuan Jakarta Interbank Spot Dollar Rate (JISDOR) berada di posisi Rp14.307 per dolar AS, terdepresiasi 0,05% dari transaksi sebelumnya di level Rp14.300 per dolar AS. Dalam empat hari, rupiah di JISDOR terpantau sudah mengalami penurunan sebesar 1,55%.

Menurut perusahaan riset TS Lombard yang berbasis di London, seperti dikutip dari Kontan, kurs rupiah dalam dua pekan terakhir berpotensi melemah sekitar 2,5%. Penyebabnya adalah kenaikan komoditas ekspor Indonesia dan cadangan devisa yang berada di level rekor. Selain itu, Kementerian Keuangan memangkas pasokan surat utang di kuartal pertama.

Dari global, indeks dolar AS tetap berdiri kokoh terhadap sekeranjang mata uang utama pada hari Selasa di tengah ekspektasi pemulihan ekonomi yang lebih cepat dan kenaikan imbal hasil AS yang lebih tinggi. Mata uang Paman Sam terpantau menguat 0,135 poin atau 0,15% ke level 91,9740 pada pukul 11.09 WIB.

“Pasar telah mengalami euforia selama beberapa waktu dan semua orang mengatakan dolar AS akan melemah karena meningkatnya minat terhadap aset berisiko,” jelas kepala strategi FX di SMBC Nikko Securities, Makoto Noji, dilansir dari Reuters. “Namun, harga minyak kemarin turun dan emas juga tergelincir. Jika ini merupakan kenyataan, maka kita bisa melihat beberapa pelemahan dalam mata uang terkait komoditas.”

Selain itu, dukungan terhadap greenback datang dari survei Institute for Supply Management (ISM) yang dirilis pada hari Senin (1/3) kemarin, menunjukkan aktivitas manufaktur AS meningkat ke level tertinggi dalam tiga tahun pada bulan Februari 2021 di tengah lonjakan pesanan baru. Akibatnya, selisih antara imbal hasil obligasi AS dan Eropa semakin melebar untuk mendorong dolar AS. Perbedaan imbal hasil 10-tahun antara Departemen Keuangan AS dan Bunds Jerman mencapai 1,76%, tertinggi dalam setahun.

Loading...