Aktivitas Manufaktur AS Melambat, Rupiah Berakhir Naik

Rupiah - okezone.comRupiah - okezone.com

JAKARTA – Rupiah mampu mengakhiri Selasa (3/8) di area hijau, memanfaatkan pelemahan yang dialami setelah aktivitas pada bulan Juli 2021 dilaporkan mengalami perlambatan. Menurut paparan Index pada pukul 14.55 WIB, mata uang Garuda menguat 80,5 poin atau 0,56% ke level Rp14.342 per dolar AS.

Sementara itu, mata uang Benua Asia terpantau bergerak terhadap greenback. Rupee India memimpin penguatan setelah naik 0,09%, disusul yen Jepang yang terapresiasi 0,03%, dan dolar Singapura yang menguat tipis 0,01%. Sebaliknya, won Korea Selatan harus melemah 0,15%, diikuti peso Filipina yang berkurang 0,06% dan yuan yang terdepresiasi 0,05%.

“Penguatan rupiah ditopang keputusan Presiden Joko Widodo yang memperpanjang penerapan PPKM level 4, tetapi melonggarkannya di sejumlah daerah dengan penurunan kasus -19,” ulas Direktur PT Solid Gold Berjangka, Dikki Soetopo, dikutip dari CNN Indonesia. “PPKM yang membatasi aktivitas dan mobilitas masyarakat pun ampuh dalam meredam penyebaran .”

Selain itu, penguatan rupiah juga ditopang data AS, yakni aktivitas manufaktur yang melambat, yang tidak sesuai dengan ekspektasi pasar. Institute of Supply Management (ISM) melaporkan aktivitas manufaktur AS yang diukur dengan Purchasing Managers’ Index (PMI) berada di 59,5 pada Juli 2021 atau turun dari bulan sebelumnya yang sebesar 60,9. “Buruknya data AS berpotensi membuat rupiah punya bahan bakar untuk menguat,” sambung Dikki.

Dari pasar , dolar AS memang terpantau turun terhadap sejumlah mata uang pada hari Selasa, setelah data manufaktur AS yang lemah dan meningkatnya kekhawatiran tentang virus corona varian delta mendorong para pedagang untuk membalikkan taruhan pada pemulihan ekonomi yang kuat. Mata uang Paman Sam terdepresiasi 0,031 poin atau 0,03% ke level 92,017 pada pukul 11.55 WIB.

““ari perspektif historis, pembacaan ISM manufaktur 59,5 sebenarnya masih merupakan pembacaan aktivitas yang sangat kuat,” kata ahli strategi senior FX di National Australia Bank di Sydney, Rodrigo Catril, seperti dilansir dari Reuters. “Namun demikian, reaksi terhadap rilis data oleh pasar Treasuries AS menunjukkan pasar khawatir atas ‘puncak pertumbuhan’ dan potensi perlambatan lebih lanjut.”

Loading...