Sebabkan Puluhan Migran Tewas, Lockdown India Untungkan Orang Kaya?

Penertiban Lockdown di India - nypost.comPenertiban Lockdown di India - nypost.com

NEW DELHI – Lebih dari 20 buruh migran di dilaporkan tewas ketika berusaha melarikan diri dari kota-kota yang terkurung coronavirus ke desa-desa mereka selama beberapa hari terakhir. Para kritikus menyalahkan jam malam yang diterapkan Perdana Menteri , Narendra Modi, yang terburu-buru, yang awalnya melambangkan simbolisme kerakyatan, tetapi tidak berpandangan ke masa depan dan menghiraukan belas kasihan.

Dilansir France 24, dalam sebuah pidato pada Selasa (24/3), Modi menempatkan 1,3 miliar orang di bawah penguncian selama tiga minggu. Itu adalah karantina coronavirus terbesar di dunia. Bahkan China, sumber wabah Covid-19, hanya mengisolasi Hubei yang paling parah terkena dampaknya. Modi cuma memberi warganya waktu kurang dari empat jam untuk melengkapi persediaan dan mengabaikan arahan sebelumnya untuk menghindari penimbunan.

Imbasnya, jutaan pekerja migran dari sektor informal India yang luas berusaha meninggalkan kota, tempat banyak dari mereka tinggal di kerja yang ditutup, untuk kembali ke desa mereka. Tanpa pekerjaan, , tabungan, jaminan , atau kemampuan untuk mendapatkan upah harian di kota-kota, desa memang menawarkan satu-satunya peluang untuk bertahan hidup.

Sayangnya, umum ditutup di bawah perintah jam malam Modi, demikian pula dengan perbatasan negara. Rantai pasokan, tanpa adanya langkah-langkah darurat, terhenti untuk menghentikan masuknya makanan dan barang-barang penting. Tanpa akses ke makanan atau , kaum miskin kota India terpaksa turun ke jalan, berjalan ke desa-desa yang jauh, yang akhirnya menewaskan lebih dari 20 orang selama beberapa hari terakhir.

Ketika sosial ramai-ramai memberitakan hal ini, Modi dipaksa untuk naik ke ‘gelombang udara’ lagi. Beberapa hari setelah melakukan kuncian, perdana menteri tersebut meminta maaf kepada negara melalui radio. Dengan formalitas permintaan maaf, Modi menjelaskan bahwa krisis coronavirus adalah ‘pertempuran hidup dan kematian’ dan dia tidak memiliki pilihan lain.

“Saya kira permintaan maaf itu tidak berarti pengakuan atas dahsyatnya apa yang telah dilakukan dan tidak ada koreksi yang ditawarkan,” tandas Harsh Mander, Direktur Pusat Studi Ekuitas yang berbasis di New Delhi, dan juga aktivis terkemuka India. “Orang-orang diminta untuk menjaga jarak sosial, mencuci tangan, dan tinggal di rumah dengan asumsi mereka memiliki rumah dan gaji masuk ke rekening bank. Kebijakan itu lebih diarahkan untuk melindungi orang kaya dan kelas menengah.”

India memiliki 1.238 kasus coronavirus yang dikonfirmasi dan sudah menewaskan 35 orang, menurut penghitungan terbaru, meskipun angka sebenarnya kemungkinan lebih tinggi karena tes tidak tersebar luas. Para ahli sepakat bahwa pemerintah India perlu menerapkan tindakan pembatasan. Mengingat kemiskinan, kepadatan penduduk, dan publik yang buruk di negara itu, hal itu memang tidak bisa diterapkan dengan mudah.

Hampir 81 persen dari angkatan kerja India bekerja di sektor informal, menurut Organisasi Buruh Internasional (ILO). Pekerja harian merupakan sepertiga dari angkatan kerja, menurut Kementerian Tenaga Kerja dan Ketenagakerjaan India, dengan pedagang kaki lima, pekerja bangunan, pekerja rumah tangga, dan sejumlah besar pekerja memiliki keterampilan rendah lainnya, yang bertahan hidup dengan upah harian tanpa perlindungan tenaga kerja.

“Saya bersedia hidup dengan kesulitan yang sama-sama dimiliki oleh para korban. Namun, Anda tidak dapat memiliki kebijakan yang diarahkan untuk melindungi orang kaya dan kelas menengah di belakang penderitaan yang hebat dari orang miskin,” sambung Mander. “Jika itu direncanakan bersama, ini bisa dikoordinasikan dengan lebih baik. Pemerintah Modi bahkan tidak menyiagakan menteri utama negara bagian India yang harus menanggung beban tanggung jawab yang besar.”

Krisis memang menjerumuskan dunia ke dalam resesi dengan ketidaksetaraan yang semakin mendalam dan negara-negara rentan menghadapi guncangan finansial. India, yang sedang tumbuh, tidak sendirian dalam merasakan kepedihan ekonomi. Namun, sebagai ekonomi baru dengan layanan administrasi yang luas yang berpengalaman dalam penanggulangan bencana, negara ini seharusnya tidak berada di antara yang paling tidak siap untuk mengatasinya.

Pada hari Minggu (29/3), ketika Modi meminta maaf atas kesalahan manajemen, Presiden Benin, Patrice Talon, menjelaskan mengapa ia tidak akan memaksakan tindakan pengurungan yang serupa. Menurutnya, negara-negara kaya memasang sejumlah besar uang dan beberapa bahkan menggunakan solusi moneter yang hampir tidak disamarkan. “Benin tidak memiliki sarana seperti itu. Jika kita mengambil tindakan yang membuat semua orang kelaparan, mereka akan dengan cepat melanggar,” katanya.

Inti dari masalah di India, menurut jurnalis veteran, Sidharth Bhatia, terletak pada ‘pengambilan keputusan tegas pemerintah Modi, serta kurangnya perencanaan dan eksekusi yang buruk’. Ada satu lagi, yakni sama sekali tidak ada kepedulian terhadap biaya manusia. Sejak ia berkuasa pada tahun 2014, Modi telah memilih melakukan pengumuman kejutan dengan sedikit persiapan, membuat penduduk berjuang untuk mengatasi kejatuhan, dalam kemanusiaan dan ekonomi.

Berita utama India selama dua hari terakhir telah didominasi oleh acara keagamaan Muslim yang dimulai akhir Februari di New Delhi, yang memicu beberapa kelompok Covid-19. Beberapa jam setelah berita itu beredar minggu ini, tagar #CoronaJihad menjadi viral di Twittersphere India, dengan beberapa menyatakan epidemi tersebut dikoordinasikan oleh musuh bebuyutan India, yakni Pakistan dan China.

Vigilantisme, Islamofobia, dan kebrutalan polisi terus meningkat dan dipertontonkan di depan umum selama masa jabatan kedua Modi, dengan Partai Bharatiya Janata (BJP) yang berkuasa memicu nasionalisme Hindu di tengah anjloknya indeks ekonomi. Pandemi Covid-19 mengancam untuk melepaskan respons lama terhadap ketakutan baru. “Polisi memperlakukan orang miskin yang mencoba bertahan hidup seolah-olah mereka adalah penjahat,” lanjut Mander.

Di sisi lain, epidemi ini juga telah memicu aksi amal dan mobilisasi sosial yang luar biasa untuk membantu orang-orang India yang telantar dan melarat oleh kuncian. Beberapa LSM dan profesional yang digerakkan oleh krisis, telah menawarkan makanan gratis untuk migran yang terdampar di kota-kota India. Mander memuji ‘kaum muda, sukarelawan muda yang mengambil risiko’ untuk memberi makan kaum miskin.

“Ini bukan masalah yang bisa ditangani oleh badan amal. Ini hanya sebuah langkah, tetapi Anda tidak bisa mengatakan biarkan masyarakat sipil menjaganya,” ujar Mander. “Ini tidak seperti orang miskin India adalah sebagian kecil dari populasi. Ini adalah tugas negara, apa yang kita lakukan hanyalah sebagian kecil dari apa yang perlu dilakukan.”

Loading...