Masih Labil, Rupiah Kembali Berakhir Melemah

Rupiah - www.merdeka.comRupiah - www.merdeka.com

Rupiah masih belum dapat sepenuhnya bergerak stabil karena harus menutup Kamis (13/7) sore di zona merah meski dibuka menguat, ketika perundingan stimulus bantuan AS menemui titik buntu. Menurut Bloomberg Index pada pukul 14.58 WIB, Garuda melemah 15 poin atau 0,10% ke level Rp14.775 per .

Sementara itu, data yang diterbitkan pagi tadi menetapkan kurs referensi Jakarta Interbank Spot Dollar Rate (JISDOR) berada di posisi Rp14.877 per AS, terdepresiasi 100 poin atau 0,68% dari perdagangan sebelumnya di level Rp14.777 per AS. Di saat yang bersamaan, mayoritas mata uang mengungguli greenback, dengan kenaikan tertinggi sebesar 0,23% dialami yen Jepang.

“Nilai tukar rupiah tertekan oleh perundingan rencana stimulus AS yang buntu sehingga peluncurannya tertunda,” tutur Kepala Riset Edukasi Monex Investindo Futures, Ariston Tjendra, dilansir Bisnis. “Padahal, sentimen itu sangat dinantikan pasar untuk mendorong penguatan nilai tukar berkembang, termasuk rupiah, karena akan melemahkan dolar AS.”

Dari pasar global, indeks dolar AS juga bergerak lebih rendah terhadap sebagian besar rekan-rekannya pada hari Kamis, di tengah memudarnya harapan kesepakatan antara Republik dan Demokrat mengenai stimulus tambahan untuk ekonomi AS. Mata uang Paman Sam melemah 0,183 poin atau 0,20% ke level 93,260 pada pukul 12.43 WIB.

“Dolar AS membutuhkan berita positif tentang stimulus untuk naik lebih lanjut, tetapi saya yakin kita akan sampai di sana, karena politisi ini tidak dapat kembali ke daerah pemilihan mereka dengan tangan kosong,” kata kepala strategi mata uang di Mizuho Securities di Tokyo, Masafumi Yamamoto, disalin dari Reuters. “Setelah ini terjadi, kenaikan greenback terhadap yen bisa menjadi katalisator untuk kenaikannya terhadap mata uang lainnya.”

Presiden AS, Donald Trump, sempat menuduh Demokrat tidak ingin merundingkan paket bantuan virus AS setelah negosiator Partai Republik dan Demokrat saling menyalahkan atas pembicaran mengenai undang-undang bantuan yang terlambat lima hari. Sentimen pasar telah berpindah antara optimisme dan pesimisme, tetapi analis berpendapat bahwa lebih banyak stimulus adalah hasil yang paling mungkin karena tanpanya, pemulihan ekonomi AS dapat terhenti.

Loading...