Terpengaruh Situasi Hong Kong, Posisi Rupiah Melorot di Awal Dagang

Rupiah - koran.tempo.coRupiah - koran.tempo.co

Jakarta dibuka melemah sebesar 26 poin atau 0,18 persen ke level Rp14.271 per AS di awal perdagangan pagi hari ini, Kamis (15/8). Kemarin, Rabu (14/8), mata uang Garuda berakhir terapresiasi 80 poin atau 0,56 persen ke posisi Rp14.245 per USD.

Sementara itu, indeks dolar AS yang mengukur pergerakan the terhadap sejumlah mata uang utama terpantau menguat. Pada akhir perdagangan Rabu atau Kamis pagi WIB, indeks dolar AS dilaporkan naik 0,20 persen menjadi 98,0067 lantaran timbulnya kekhawatiran pasar terhadap perlambatan di Eropa.

Jerman sebagai salah satu penggerak ekonomi di Uni Eropa baru saja mengumumkan jika produk domestik bruto (PDB) mereka mengalami kontraksi sebesar 0,1 persen pada kuartal II 2019. Dilansir dari Reuters melalui Antara, banyak analis menghubungkan penurunan di Jerman dengan ketegangan perdagangan antara ekonomi-ekonomi utama dunia. Pasalnya, ekonomi Jerman sendiri sangat bergantung pada aktivitas ekspor. Menurut Eurostat, data ekonomi zona Euro melambat ke angka 0,2 persen.

Oleh sebab itu, sejumlah mata uang safe haven pun berhasil meraup untung akan kecemasan terkait isu resesi yang mungkin terjadi. Alhasil banyak investor mengamankan harta mereka ke aset-aset yang dinilai aman. “Ada banyak malapetaka dan kesuraman menyebar ke seluruh dunia. Kurva imbal hasil AS adalah indikator resesi utama. Jerman, Italia, dan Inggris kemungkinan menuju resesi. Data Tiongkok hari ini sangat buruk,” kata John Doyle, wakil presiden untuk dan perdagangan di Tempus Inc di Washington.

Rupiah kemarin berhasil menguat berkat dukungan faktor eksternal seperti pernyataan terbaru Presiden Amerika Serikat Donald Trump yang akan menunda pengenaan sebesar 10% untuk produk-produk China. Tarif itu sebelumnya akan diberlakukan pada September, tetapi ternyata diundur hingga Desember 2019 mendatang.

Analis Monex Investindo Ahmad Yudiawan berpendapat, melunaknya sikap Trump ini cukup memengaruhi posisi rupiah. “Ini yang menjadi faktor rupiah sebagai mata uang perkasa,” beber Yudi, seperti dilansir Kontan.

Namun untuk hari ini Yudi mengatakan bahwa rupiah kemungkinan akan terbebani oleh kondisi di Hong Kong. Menurutnya situasi Hong Kong dapat berdampak pada aset berisiko seperti rupiah. Tetapi ia yakin rupiah dapat menguat karena pasar masih terfokus pada pernyataan terbaru Trump.

Loading...