Survei Ekonomi Zona Euro Negatif, Rupiah Kembali Tertekan Penguatan USD

Rupiah - bisnis.comRupiah - bisnis.com

dibuka melemah tipis sebesar 1 poin atau 0,01 persen ke level Rp13.695 per AS di awal pagi hari ini, Rabu (19/2). Sebelumnya, Selasa (18/2), mata uang Garuda berakhir terdepresiasi 37 poin atau 0,25 persen ke posisi Rp13.694 per USD.

Indeks dolar AS yang mengukur pergerakan the terhadap sekeranjang mata uang utama terpantau menguat. Pada akhir perdagangan Selasa atau Rabu pagi WIB, indeks dolar AS menguat ke level tertinggi dalam hampir 3 tahun terhadap euro karena survei Jerman yang menunjukkan kepercayaan mengalami penurunan cukup signifikan.

Pada Selasa (18/2), lembaga penelitian ZEW Jerman menyatakan dalam survei bulanannya bahwa kepercayaan investor memburuk lebih dari perkiraan bulan Februari, terutama di tengah kekhawatiran merebaknya corona bisa mengurangi aktivitas perdagangan dunia. Survei tersebut sekaligus meningkatkan ekspektasi bahwa Jerman akan kehilangan lebih banyak momentum di paruh pertama tahun ini lantaran angka ekspor yang lemah sehingga mengakibatkan produsen mengalami resesi.

“Skala erosi dalam kepercayaan berpotensi menentukan tahap hasil yang sama buruk pada Jumat (21/2/2020) ketika Jerman dan zona euro mengeluarkan survei PMI awal,” ujar Joe Manimbo, analis senior di Western Union Business Solutions di Washington, seperti dilansir Antara.

Sementara itu, ekonomi Amerika Serikat dianggap lebih tangguh dibanding bagian dunia lain, sehingga menjaga posisi dolar AS pada level tertinggi 4,5 bulan terhadap sejumlah mata uang. “Hanya ketika masalah virus mereda dan dampak dari semua stimulus di seluruh dunia mulai menjadi nyata, kita akan melihat tekanan turun pada dolar AS,” ungkap Brad Bechtel, direktur pelaksana, Jefferies di New York.

Analis Monex Investindo Futures Ahmad Yudiawan mengatakan, melemahnya rupiah diakibatkan kombinasi faktor eksternal dan internal. Dari sisi eksternal, menguatnya dolar AS dan penyebaran virus corona yang masih belum menemukan solusi masih terus menghantui rupiah.

“Pelemahan rupiah dibayangi resesi di sejumlah negara seperti Jepang, Singapura, dan China. Dengan virus corona yang tidak segera terselesaikan, pelaku pasar kembali beralih ke safe haven seperti dolar AS,” ujar Yudi, seperti dikutip dari Kontan.

Dari dalam negeri, data ekspor yang rendah pun semakin menekan rupiah. Serangkaian sentimen itu menurut Yudi berpotensi menghambat laju rupiah pada hari ini. Kecuali jika ada sentimen baru yang dapat menopang gerak rupiah lebih lanjut.

Loading...