Kekhawatiran Resesi Mereda, Rupiah Berbalik Menguat di Pembukaan

Rupiah - mediaindonesia.comRupiah - mediaindonesia.com

Jakarta dibuka menguat 6 poin atau 0,04 persen ke posisi Rp14.267,5 per AS di awal perdagangan pagi hari ini, Jumat (16/8). Sebelumnya, Kamis (15/8), nilai tukar Garuda berakhir terdepresiasi 25 poin atau 0,18 persen ke level Rp14.273,5 per USD.

Indeks dolar AS yang mengukur gerak the terhadap sekeranjang mata uang utama terpantau mengalami penguatan moderat dan pulih dari pelemahan awal terhadap safe haven yen. Pada akhir perdagangan Kamis atau Jumat pagi WIB, indeks dolar AS dilaporkan naik lantaran data penjualan ritel AS yang lebih baik dari prediksi , sehingga mengurangi kekhawatiran bahwa ekonomi AS berpotensi menuju resesi.

Sebelumnya, kekhawatiran pasar atas resesi telah mengakibatkan yen Jepang menguat terhadap USD, setelah kurva imbal hasil surat utang AS terbalik untuk pertama kalinya dalam 12 tahun. Tetapi pada Kamis yen berbalik melemah usai data menunjukkan penjualan ritel AS meningkat pada Juli. “Dengan seluruh dunia meluncur ke jurang, angka penjualan ritel Juli menunjukkan AS bangkit kembali untuk menyelamatkan sekali lagi,” kata Michael Pearce, ekonom senior AS di Capital Economics, seperti dilansir Antara.

Menurut data terbaru, penjualan ritel AS naik pada Juli 2019 lantaran konsumen membeli sejumlah bahkan ketika mereka mengurangi pembelian kendaraan bermotor, yang dapat membantu meredakan tensi pasar keuangan tentang kondisi perekonomian Amerika Serikat. Sementara itu, pasar obligasi AS terus menunjukkan tanda kehati-hatian dengan imbal hasil obligasi pemerintah bertenor 30 tahun merosot ke level terendah di bawah 2 persen dan obligasi pemerintah bertenor 10 tahun yang menjadi acuan turun ke level 3 tahun pada Kamis (15/8).

Direktur PT Garuda Berjangka Ibrahim mengungkapkan bahwa melemahnya rupiah kemarin disebabkan ketakutan pasar pada perlambatan ekonomi , khususnya di zona Eropa. “Lima negara yang diproyeksikan resesi akibat perang dagang yang berujung ke perang mata uang adalah Inggris, Jerman, Italia, Meksiko, dan Brasil,” kata Ibrahim, seperti dilansir Kontan.

Akan tetapi, Ibrahim berpendapat pelemahan rupiah masih tergolong tipis karena pihak Bank Indonesia (BI) terus melakukan intervensi di pasar domestic non delivery forward (DNDF). Neraca perdagangan bulan Juli 2019 yang defisit USD63,5 juta rupanya lebih baik dari perkiraan pasar, hal itulah yang mampu menahan rupiah terkoreksi lebih lanjut.

Loading...