Harga Minyak Mentah Turun, Rupiah Rebound di Awal Perdagangan

Rupiah - republika.co.idRupiah - republika.co.id

Jakarta – Kurs pada awal perdagangan pagi hari ini, Rabu (18/9), dibuka menguat 21 poin atau 0,15 persen ke level Rp14.079 per AS. Sebelumnya, Selasa (17/9), Garuda berakhir terdepresiasi 58 poin atau 0,41 persen ke posisi Rp14.100 per USD.

Indeks dolar AS yang mengukur pergerakan the Greenback terhadap sejumlah mata uang utama terpantau melemah. Pada akhir perdagangan Selasa atau Rabu pagi WIB, indeks dolar AS dilaporkan melemah 0,35 persen menjadi 98,266 usai diperdagangkan pada kisaran yang sempit menjelang dirilisnya hasil keputusan yang diprediksi bakal memangkas acuannya. Selain itu, USD juga terkoreksi akibat penurunan harga minyak serta penguatan euro.

Pada Selasa (17/9), harga minyak turun 6 persen usai menteri energi Arab Saudi mengungkapkan bahwa kerajaan telah sepenuhnya memulihkan produksi minyak mereka, menyusul serangan selama akhir pekan yang telah menutup sejumlah 5 persen dari angka produksi minyak global. Hal tersebut berhasil membalikkan beberapa kenaikan dolar pada Senin (16/9), saat para pelaku berbondong-bondong mengalihkan harta mereka ke aset safe haven, demikian seperti dilansir Antara.

Pasar memprediksi bahwa The Fed akan menurunkan suku bunga acuannya sebesar 25 basis poin usai diakhirinya pertemuan kebijakan dua hari pada Rabu waktu setempat. Sejumlah investor meyakini jika itu mungkin adalah penurunan suku bunga terakhir, sebab sementara ini tak ada lebih banyak bukti terkait perlambatan Amerika Serikat. “Jika Fed memotong 25 basis poin, maka kami pikir ini akan menjadi yang terakhir sampai kami benar-benar melihat tanda-tanda resesi,” ungkap Ahli Strategi Brown Brothers Harriman.

Dari dalam negeri, berhasil memenangkan Rp7,05 triliun lelang suku negara. Jumlah tersebut sesuai target indikatif awal Rp7 triliun. Padahal jumlah permintaan yang masuk sendiri mencapai angka Rp29 triliun. Permintaan masuk tersebut kabarnya lebih tinggi dibanding lelang sukuk negara 2 minggu lalu sebesar Rp21,82 triliun.

Rupiah juga dinilai menguat karena turunnya harga minyak mentah. “Rupiah mungkin akan tetap berada di level rendah sebelum pengumuman FOMC karena dolar masih berada dalam spekulasi bahwa The Fed akan memupuskan ekspektasi yang terlalu dovish,” jelas Vishnu Varathan, head of economics and strategy Mizuho Bank, seperti dikutip dari melalui Kontan.

Loading...