Pasar Nantikan Non-Farm Payroll AS, Rupiah Manfaatkan Momen untuk Rebound

Rupiah - infonawacita.comRupiah - infonawacita.com

Jakarta – Nilai tukar Garuda dibuka menguat sebesar 50 poin atau 0,30 persen ke level Rp16.445 per dolar AS di awal pagi hari ini, Jumat (3/4). Sebelumnya, Kamis (2/4), kurs ditutup terdepresiasi 45 poin atau 0,27 persen ke posisi Rp16.495 per USD.

Sementara itu, indeks dolar AS terpantau menguat terhadap sejumlah mata uang utama. Pada akhir perdagangan Kamis atau Jumat pagi WIB indeks dolar AS naik 0,7 persen menjadi 100,17 lantaran investor yang khawatir dengan prospek resesi terus melindungi hartanya di balik USD.

“Dengan meningkatnya dampak di seluruh dunia, investor memandang dolar sebagai tempat yang aman,” ujar Chris Gaffney, presiden dunia di TIAA Bank di St. Louis, Missouri, seperti dilansir Antara.

Data klaim pengangguran Amerika Serikat dalam pekan terakhir melonjak ke level tertinggi selama ini, tetapi dolar AS tampaknya tidak terlalu banyak bereaksi. Klaim awal untuk tunjangan pengangguran naik jadi 6,65 juta pada minggu terakhir dari angka 3,3 juta yang tidak direvisi pada pekan sebelumnya. Angka itu jauh melewati estimasi median 3,50 juta berdasarkan survei para ekonom Reuters.

Para pelaku pasar kini tengah menanti laporan payrolls (gaji) non-pertanian AS pada Maret 2020. Ekonom memprediksi kehilangan 100.000 pekerjaan AS bulan lalu, pembalikan tajam dari kenaikan pekerjaan 273.000 pada Februari, berdasarkan jajak pendapat Reuters. Itu sekaligus jadi penurunan pertama dalam sektor pekerjaan sejak September 2010.

“Tentu saja, penurunan payrolls akan jauh lebih buruk pada April, hampir pasti melebihi kehilangan bulanan terbesar yang tercatat selama krisis , yaitu 800.000 pada Maret 2009,” ungkap Natwest Markets.

Menurut Analis Hfx Berjangka Ady Phangestu, gerak rupiah hari ini akan dipengaruhi rilis data di Amerika Serikat, yakni non farm payroll. “Hanya saja masing-masing tengah disibukkan oleh kebijakan untuk memoles mangkraknya aktivitas ekonomi imbas virus corona. Sehingga saya data tersebut tidak akan berpengaruh banyak,” papar Ady, seperti dikutip dari Kontan.

Akan tetapi, Analis Valbury Futures Lukman Leong justru memprediksi rupiah berpotensi untuk menguat karena belakangan ini geraknya relatif stabil, sedangkan dolar AS justru mulai terkoreksi. “Permintaan terhadap dolar AS telah menurun dan data-data ekonomi AS terakhir cukup jelek. Selain itu, data tenaga kerja besok (hari ini) diantisipasi akan kembali jelek,” ungkapnya.

Loading...