BI Pangkas Suku Bunga 25 Bps, Rupiah Justru Terkoreksi

Rupiah - republika.co.idRupiah - republika.co.id

Jakarta mata uang Garuda mengawali pagi hari ini, Jumat (20/9), dengan pelemahan sebesar 30 poin atau 0,21 persen ke level Rp14.090 per AS. Sebelumnya, Kamis (19/9), kurs berakhir terapresiasi 7 poin atau 0,05 persen ke posisi Rp14.060 per USD.

Sementara itu, indeks dolar AS yang mengukur pergerakan the terhadap sejumlah mata uang utama terpantau melemah. Pada akhir perdagangan Kamis atau Jumat pagi WIB, indeks dolar AS dilaporkan turun sebesar 0,30 persen menjadi 98,2768 usai Presiden Komisi Eropa Jean-Claude Juncker menuturkan bahwa mendapat kesepakatan Brexit sebelum batas waktu 31 Oktober 2019 adalah hal yang mungkin.

Ketika diwawancarai Sky News, Juncker mengatakan jika “kita dapat memiliki kesepakatan” dan dia meyakini bahwa “Brexit akan terjadi.” Selain itu Juncker juga berpendapat bahwa Brexit tanpa kesepakatan justru hanya akan jadi bencana. Oleh sebab itu, ia bersedia melakukan segala cara untuk bisa memperoleh kesepakatan dengan Inggris.

Di sisi lain, usai memangkas suku bunganya lagi sebesar 25 basis poin, rupanya Bank Indonesia (BI) juga melakukan langkah yang sama dengan menurunkan acuan sebesar 25 bps (basis poin) menjadi 5,25 persen. Akan tetapi, langkah pelonggaran kebijakan moneter ini menurut Ekonom Bank Mandiri Reny Eka Putri dampaknya tak terlalu besar untuk rupiah. Pasalnya, penurunan sudah diantisipasi dari jauh-jauh hari. “Dampaknya tidak besar, harga sudah priced in,” kata Reny, seperti dilansir Kontan.

Lebih lanjut Reny mengatakan, nilai tukar rupiah terhadap USD masih kompetitif. Level ini menurutnya masih aman dan kuat untuk rupiah lantaran sesuai dengan kondisi fundamental ekonomi Indonesia saat ini. “Masih kompetitif juga terhadap ekspor,” bebernya.

Sejumlah analis mengingatkan bahwa situasi yang perlu diwaspadai oleh rupiah saat ini justru perkembangan terbaru dari perang dagang antara Amerika Serikat dengan China. Beberapa waktu lalu Presiden Amerika Serikat Donald Trump memutuskan untuk menangguhkan rencana kenaikan impor baru untuk China sampai Oktober 2019. “Kita tunggu saja sampai Oktober, apakah Trump akan mengenakan barunya atau tidak jadi melakukan rencana tersebut,” ucap Reny.

Pada perdagangan Jumat ini beberapa analis memprediksi jika rupiah masih bisa menguat dengan dorongan sentimen yang hampir sama seperti saat ini. “Belum ada ekonomi yang bisa menggerakkan rupiah terhadap dolar AS, sambil menunggu perkembangan perang dagang AS dan China terkait negosiasi yang akan kembali dilakukan,” tandas Kepala Ekonom BCA David Sumual.

Loading...