Rupiah Tergelincir di Tengah Data Ekonomi AS yang Suram

Rupiah - www.jitunews.comRupiah - www.jitunews.com

Jakarta – Nilai tukar dibuka melemah sebesar 37,5 poin atau 0,24 persen ke level Rp15.452,5 per AS di awal perdagangan pagi hari ini, Jumat (24/4). Kemarin, Kamis (23/4), Garuda berakhir terapresiasi 35 poin atau 0,23 persen ke posisi Rp15.415 per USD.

Indeks dolar AS yang mengukur pergerakan the Greenback terhadap sejumlah mata uang utama terpantau sedikit menguat. Pada akhir perdagangan Kamis atau Jumat pagi WIB, indeks dolar AS naik 0,04 persen jadi 100,4358 karena investor tengah mencerna sejumlah data ekonomi Amerika Serikat yang kurang menggembirakan.

Pada Kamis (23/4), Departemen Tenaga Kerja Amerika Serikat melaporkan bahwa klaim pengangguran awal AS, cara kasar untuk mengukur PHK, mencapai angka 4,427 juta pada pekan yang berakhir 18 April 2020. Tambahan klaim tersebut sekaligus menyebabkan klaim pengangguran AS dalam 5 pekan terakhir menjadi lebih dari 26 juta di tengah kejatuhan ekonomi akibat pandemi virus corona (-19).

Sementara itu, perusahaan-perusahaan sektor swasta di AS mengisyaratkan penurunan yang belum pernah terjadi sebelumnya dalam aktivitas bisnis April 2020, dengan perusahaan-perusahaan sektor dan jasa mencatat kontraksi produksi yang jelas di tengah corona, demikian seperti dilaporkan IHS Markit. Kemudian Indeks Manajer Pembelian (PMI) awal untuk sektor dari IHS Markit turun jadi 36,9 pada April dari 48,5 pada Maret. Sedangkan PMI sektor jasa turun dari 39,8 jadi 27 bulan ini, demikian seperti dilansir dari Antara.

Menurut Head of Economics Research Pefindo Fikri C Permana, dalam perdagangan hari ini rupiah kemungkinan masih akan fluktuatif dan cenderung menguat. Hal ini didorong oleh masih tertekannya USD usai AS menyetujui paket stimulus virus corona sebesar USD500 miliar. “Selain itu, pergerakan minyak dunia juga akan berpengaruh terhadap rupiah. Sementara perkembangan pandemi secara dan juga tetap punya pengaruh,” ungkap Fikri, seperti dikutip Kontan.

Analis Global Kapital Investama Alwi Assegaf menambahkan, rupiah berpotensi menguat lantaran stabilnya harga minyak serta adanya upaya dari pemerintah dunia untuk mencegah merosotnya ekonomi akibat virus corona yang juga dapat menguntungkan rupiah.

“Sentimen aset berisiko kemungkinan akan menjadi muncul. Apalagi beberapa negara di Eropa, serta AS mulai melonggarkan aturan lockdown dan dalam negeri, sentimen rupiah masih didukung oleh pernyataan optimis dari gubernur BI,” jelas Alwi.

Loading...