Meski Data Ekonomi AS Positif, Rupiah Lanjut Menguat di Pembukaan

Rupiah - www.medanbisnisdaily.comRupiah - www.medanbisnisdaily.com

Jakarta Garuda di awal pagi hari ini, Jumat (17/1), dibuka menguat sebesar 9 poin ke Rp13.634/USD, kemudian lanjut menguat 6 poin atau 0,04 persen ke posisi Rp13.636,5 per AS. Sebelumnya, Kamis (16/1), kurs berakhir terapresiasi 52 poin atau 0,38 persen ke posisi Rp13.643 per USD.

Sementara itu, indeks dolar AS yang mengukur gerak the Greenback terhadap sejumlah mata uang utama terpantau menghijau. Pada akhir perdagangan Kamis atau Jumat pagi WIB, indeks dolar AS naik 0,10 persen menjadi 97,329 usai dirilisnya beberapa data yang menunjukkan bahwa Amerika Serikat . Kondisi itu sekaligus membalikkan pelemahan sebelumnya usai ditandatanganinya perjanjian dagang fase satu antara AS dan China untuk mengurangi konflik perdagangan mereka.

Adapun data penjualan ritel AS mengalami peningkatan untuk bulan ketiga berturut-turut pada Desember 2019. Rumah tangga membeli berbagai barang bahkan saat mereka mengurangi pembelian kendaraan bermotor. Hal ini mengindikasikan bahwa ekonomi mempertahankan laju pertumbuhan moderat di akhir tahun 2019.

Di sisi lain, aktivitas manufaktur di wilayah negara bagian Mid-Atlantic AS juga dilaporkan rebound pada Januari 2020 ke level tertinggi dalam 8 bulan, dengan prospek paling cerah dalam lebih dari satu setengah tahun, demikian ujar Federal Reserve Bank of Philadelphia, seperti dilansir Antara.

Data lainnya menunjukkan, orang AS yang mengajukan tunjangan pengangguran mengalami penurunan lebih besar dibanding prediksi pekan lalu. “Data positif, terutama angka Philly Fed. Ini mengurangi kemungkinan resesi, yang sudah rendah,” ujar Greg Anderson, kepala strategi valuta asing di BMO Capital Markets, New York.

Dari dalam negeri, rupiah kemarin berhasil menguat ke level tertinggi sejak Februari 2018. Menurut Ekonom Bank Mandiri Reny Eka Puteri, penggerak rupiah masih berasal dari faktor eksternal dicapainya kesepakatan dagang fase satu antara AS dan China.

“Sebagian investor memang menaruh sisi yang optimis nanti tahap satu ini akan berlanjut ke tahap-tahap selanjutnya yang diprediksi akan menguntungkan kedua belah pihak. Namun sebagian lagi, menaruh kekhawatiran juga nanti ada salah satu pihak yang tidak menepati janji,” ujar Reny, seperti dilansir Kontan.

Ia menambahkan, hari ini rupiah masih akan dipengaruhi oleh sentimen eksternal. “Antisipasi data tenaga kerja AS itu mungkin akan jadi pengaruh ke perdagangan besok (hari ini). Sementara domestik masih dipengaruhi neraca perdagangan. Jadi untuk besok (hari ini) masih lebih ke data AS saja,” pungkasnya.

Loading...