Rebound, Rupiah Pagi Ini Berhasil Melambung Hingga 90 Poin

Rupiah - rilis.idRupiah - rilis.id

Jakarta tukar mengawali pagi hari ini, Rabu (14/8), dengan rebound atau penguatan cukup signifikan sebesar 90 poin atau 63 persen ke level Rp14.235 per dolar . Sebelumnya, Selasa (13/8), mata Garuda berakhir terdepresiasi 73 poin atau 0,51 persen ke posisi Rp14.323 per USD.

Sementara itu, indeks dolar AS yang mengukur pergerakan the Greenback terhadap enam mata uang utama terpantau menguat. Pada akhir perdagangan Selasa atau Rabu pagi WIB, indeks dolar AS dilaporkan naik sebesar 0,43 persen menjadi 97,8130 lantaran kekhawatiran para pelaku terhadap ketegangan kondisi perdagangan antara Amerika Serikat dengan kini sudah mulai mereda.

Di sisi lain, pada perdagangan kemarin rupiah cukup terpuruk karena tertekan oleh sentimen internal dan eksternal. Menurut Analis Asia Trade Future Deddy Yusuf Siregar, rupiah melemah akibat memanasnya tensi politik di Argentina yang membuat mata uangnya anjlok. Ketegangan kondisi politik di Argentina tersebut terjadi usai hasil pemilu presiden putaran pertama dimenangkan oleh Alberto Fernandez yang merupakan pesaing presiden Argentina saat ini, Mauricio Macri.

Kekalahan Macri dalam pilpres mengakibatkan para investor memutuskan untuk menjual instrumen investasinya sehingga potensi default surat utang Argentina pun membengkak. Pada Senin (12/8), peso Argentina dilaporkan anjlok hingga 16,96 persen. “Pelemahan peso Argentina mirip dengan lira Turki tahun lalu. Dan ini berdampak negatif ke emerging market termasuk rupiah,” ungkap Ekonom Bank Permata Josua Pardede, seperti dilansir Kontan.

Perang yang terjadi antara AS dengan China juga menimbulkan potensi perlambatan ekonomi dunia semakin besar. Oleh sebab itu, para pelaku pasar pun lebih memilih mengamankan harta mereka ke mata uang safe haven seperti yen Jepang, franc Swiss dan dollar AS.

Sedangkan sentimen negatif dari dalam negeri adalah keputusan Uni Eropa yang mengenakan tarif impor pada biodiesel asal Indonesia sebesar 18 persen. “Hal ini bakal mempengaruhi kinerja ekspor Indonesia. Sehingga rupiah tertekan jelang penutupan,” beber Josua. Oleh sebab itu, para analis memperkirakan jika rupiah akan kembali terkoreksi hari ini apabila data inflasi AS bulan Juli sesuai prediksi pasar.

Loading...