Data Ritel AS Negatif, Rupiah Melemah Tipis di Pembukaan

Rupiah - www.cnnindonesia.comRupiah - www.cnnindonesia.com

Jakarta rupiah dibuka melemah tipis sebesar 1 poin atau 0,01 persen ke level Rp14.172,5 per dolar AS di awal perdagangan pagi hari ini, Kamis (17/10). Kemarin, Rabu (16/10), nilai tukar Garuda berakhir terdepresiasi 6 poin atau 0,04 persen ke posisi Rp14.172 per USD.

Sementara itu, indeks dolar AS yang mengukur pergerakan the terhadap sekeranjang mata uang utama terpantau melemah. Pada akhir perdagangan Rabu atau Kamis pagi WIB, indeks dolar AS turun 0,30 persen menjadi 97,998 akibat data penjualan ritel yang kurang memuaskan. Data tersebut dianggap mencerminkan gambaran suram ekonomi dan mendukung adanya penurunan lanjutan oleh Federal Reserve.

Data penjualan ritel Amerika Serikat mengalami penurunan untuk pertama kalinya dalam 7 bulan pada September 2019. Hal ini mengindikasikan kelemahan yang diakibatkan oleh dan dapat menyebar ke ekonomi yang lebih luas. “Ekonomi AS memang menunjukkan pelemahan lebih lanjut, membenarkan pemangkasan suku bunga oleh Fed,” ujar Marc-Andre Fongern, ahli strategi di MAF Global Forex di Frankfurt, seperti dilansir Antara.

Menjelang pertemuan kebijakan berikutnya, para gubernur tetap terpecah terkait perlunya memotong biaya pinjaman untuk ketiga kalinya pada tahun 2019 ini. “Secara keseluruhan, angka penjualan ritel mendukung pandangan kami bahwa pertumbuhan ekonomi sedang melambat,” tutur Michael Pearce, ekonom senior AS di Capital Economics.

Menurut Analis Monex Investindo Futures Ahmad Yudiawan, lemahnya rupiah masih dipengaruhi oleh memanasnya kembali hubungan perdagangan antara AS dengan China usai akhir pekan lalu dikabarkan mencapai kesepakatan . Yudi menambahkan, isu terbaru adalah RUU pengaturan Hak Asasi Manusia dan kondisi demokrasi di Hong Kong. “Sepertinya AS akan melakukan intervensi dan ini menjadi kekhawatiran baru ,” beber Yudi, seperti dilansir Kontan.

Ekonom Bank Mandiri Reny Eka Putri juga menambahkan, kini pasar tengah wait and see jelang pelantikan presiden terpilih, Joko Widodo (Jokowi). Oleh sebab itu banyak yang lebih memilih bertahan dengan dolar AS. Terlebih karena data neraca dagang yang defisit USD161 juta rupanya tak sesuai dengan harapan pasar. Oleh sebab itu, baik Reny maupun Yudi memprediksi bahwa hari ini rupiah akan kembali terkoreksi.

Loading...