AS-China Kembali Panas, Kurs Rupiah Pagi Ini Melempem

Rupiah - www.beritasatu.comRupiah - www.beritasatu.com

Jakarta mengawali pagi hari ini, Rabu (9/9), dengan pelemahan sebesar 15 poin atau 0,10 persen ke level Rp14.780 per AS. Sebelumnya, Selasa (8/9) sore, mata uang Garuda berakhir terdepresiasi 25 poin atau 0,17 persen ke posisi Rp14.765 per USD menurut dari Index.

Sementara itu, indeks dolar AS yang mengukur pergerakan the Greenback terhadap sekeranjang mata uang utama terpantau menguat. Pada akhir perdagangan Selasa atau Rabu pagi WIB, indeks dolar AS dilaporkan naik 0,40 persen ke angka 93,4450 di tengah momen pelemahan pound sterling Inggris.

Dilansir dari Xinhua melalui iNews, pound sterling melemah lantaran para khawatir tentang ketidakpastian seputar Brexit. Pembicaraan penting yang bertujuan menemukan kesepakatan perdagangan pasca-Brexit antara Inggris dan Uni Eropa (UE) dibuka pada hari Selasa di London. Perdana Menteri Inggris, Boris Johnson mengungkapkan bahwa pihaknya ingin kesepakatan perdagangan pasca Brexit yang disepakati dengan Uni Eropa pada batas waktu 15 Oktober.

Sedangkan rupiah hari ini diprediksi akan bergerak flat dengan kemungkinan menguat tipis. Adapun sentimen penggerak rupiah di perdagangan hari ini berasal dari sentimen eksternal. Menurut Kepala Riset dan Edukasi PT Monex Investindo Futures Ariston Tjendra, dolar AS masih menguat pada Selasa lantaran membaiknya data ekonomi Amerika Serikat pekan lalu.

“Selain itu, kekhawatiran akan memanasnya hubungan AS dan China, turut memberikan tekanan terhadap risk asset (aset berisiko),” jelas Ariston, seperti dikutip dari Kontan.

Terlebih lagi tidak ada data ekonomi penting yang akan dirilis oleh AS dalam waktu dekat. Dari sisi pemberitaan internasional, terlihat bahwa China mulai membalas isu pemblokiran perusahaan semi konduktornya. “Jadi, kemungkinan isu hubungan AS dan China ini masih memanas dan bisa menekan rupiah lagi,” terang Ariston.

Dari dalam negeri, sentimen domestik yang dinilai masih menahan gerak rupiah adalah data cadangan devisa (cadev) yang dirilis positif beberapa waktu lalu. Kemudian pernyataan Menteri (Menkeu) Sri Mulyani terkait independensi Bank (BI) ditengarai dapat menahan pelemahan rupiah agar tak terlalu dalam.

Loading...