Sentimen Cadev & Intervensi BI Bikin Rupiah Anteng Bertengger di Zona Hijau

Rupiah - bangka.tribunnews.comRupiah - bangka.tribunnews.com

Jakarta – Kurs pada awal perdagangan pagi hari ini, Rabu (8/7), dibuka menguat sebesar 22,5 poin atau 0,16 persen ke level Rp14.417,5 per . Sebelumnya, Selasa (7/7), mata uang Garuda berakhir terapresiasi 50 poin atau 0,35 persen ke posisi Rp14.440 per USD.

Indeks dolar AS yang mengukur pergerakan the terhadap sekeranjang mata uang utama terpantau menguat. Pada akhir perdagangan Selasa atau Rabu pagi WIB, indeks dolar AS dilaporkan naik 0,15 persen ke level 96,889. Dolar AS telah anjlok serendah 96,565 dengan rata-rata pergerakan 50 harinya terperosok di bawah rata-rata 200 hari, yang dinilai sebagai sinyal bearish.

“Tidak ada data untuk menggerakkan pasar, meskipun Wall Street membukukan kerugian karena memikirkan kembali, setidaknya untuk saat ini, tentang prospek pertumbuhan , karena hot spot terus memperlambat pembukaan kembali di seluruh dunia,” ujar Ronald Simpson, direktur pelaksana, analisis mata uang global di Action Economics, seperti dikutip dari Antara.

Sementara itu, kurs rupiah hari ini diprediksi berpeluang untuk melanjutkan tren positif dalam dua hari terakhir. Menurut Ekonom Institute for Development of Economics and Finance (Indef) Bhima Yudhistira Adhinegara, sentimen naiknya (cadev) dan intervensi yang dilakukan oleh pihak Bank Indonesia (BI) dengan burden sharing beban APBN telah memunculkan ekspektasi positif pada para pelaku pasar.

Sebagai informasi, data cadangan Indonesia pada Juni 2020 naik sebesar USD1,2 miliar menjadi USD131,7 miliar dibandingkan bulan Mei 2020 lalu. “Kerjasama antara BI dan otoritas fiskal bisa mendorong stimulus ekonomi yang lebih besar. Walau tidak dipungkiri ada kekhawatiran independensi BI akan tergerus dan mendorong inflasi pada tahun mendatang, tapi in short moment, investor lebih menanggapi dengan positif,” ungkap Bhima, seperti dilansir dari Kontan.

Sedangkan dari faktor eksternal, Bhima menilai para investor masih memerhatikan kenaikan kasus positif corona (Covid-19) yang terjadi di sejumlah maju dan prospek pemulihan ekonomi pada semester II usai sejumlah emiten melaporkan adanya penurunan tajam pendapatan selama masa pandemi ini.

Loading...