Dolar Masih Loyo, Rupiah Terus Menguat di Akhir Pekan

Rupiah - beritakompas.comRupiah - beritakompas.com

Jakarta dibuka menguat ke level Rp14.031,1 per AS di awal perdagangan pagi hari ini, Jumat (6/12), kemudian melanjutkan penguatannya sebesar 38 poin atau 0,27 persen ke angka Rp14.030 per USD. Sebelumnya, Kamis (5/12), Garuda berakhir terapresiasi 37 poin atau 0,26 persen ke posisi Rp14.068 per USD.

Indeks dolar AS yang mengukur pergerakan the Greenback terhadap sejumlah mata uang utama terpantau melemah untuk lima hari berturut-turut. Pada akhir perdagangan Kamis atau Jumat pagi WIB, indeks dolar AS turun 0,2 persen menjadi 97,43654 karena tertekan oleh Amerika Serikat yang lebih lemah dibanding prediksi serta kinerja yang kuat dari euro dan pound sterling.

Pada pertemuan kebijakan moneter terakhir, Federal Reserve menyatakan jika pihaknya akan bertahan usai memotong suku bunga acuannya sebanyak 3 kali sepanjang tahun 2019 ini. Namun sejumlah analis menyarankan The Fed untuk bisa mempertimbangkan lagi sikap itu apabila data ekonomi AS terus memburuk. “Anda melihat kekhawatiran bahwa ekonomi AS kembali melambat hanya karena beberapa angka buruk dari kedua data ISM (Institute for Supply Management),” ujar Joe Trevisani, analis senior di FXStreet.com.

Sejumlah data AS seperti klaim pengangguran mingguan dan defisit perdagangan sebagian besar lebih baik dari konsensus pasar, namun data-data tersebut merupakan data tingkat kedua dan tak begitu mampu menopang gerak USD. Di sisi lain, defisit perdagangan turun ke level terendah dalam hampir satu setengah tahun pada Oktober 2019 menjadi 47,2 miliar dolar AS, terkecil sejak Mei 2018. Klaim pengangguran awal pun mengalami penurunan menjadi 203.000 pada pekan yang berakhir 30 November 2019, terendah sejak pertengahan April, demikian seperti dilansir Antara.

Rupiah sendiri berpeluang untuk melanjutkan penguatan karena kembali meningkatnya sentimen negosiasi dagang antara AS dengan China. “Besok (Jumat) masih menguat terbatas, karena ada sentimen dari negosiasi perdagangan,” kata Analis Pasar Uang Bank Mandiri Reny Eka Putri, seperti dilansir Kontan.

Reny berpendapat bahwa pernyataan AS yang mengisyaratkan penundaan negosiasi perang dagang justru disambut positif oleh pasar. Akan tetapi, dari dalam negeri masih belum ada sentimen yang dapat menggerakkan rupiah.

Loading...