Aset Berisiko Masih Disukai, Rupiah Pagi Ini Melenggang ke Zona Hijau

Rupiah - www.cnnindonesia.comRupiah - www.cnnindonesia.com

mengawali pagi hari ini, Kamis (6/8), dengan penguatan sebesar 72,5 poin ke posisi Rp14.477,5 per AS. Kemudian rupiah lanjut menguat 80 poin atau 0,55 persen menjadi Rp14.470/USD. Kemarin, Rabu (5/8), mata uang rupiah berakhir terapresiasi 75 poin atau 0,51 persen ke level Rp14.550 per USD.

Indeks dolar AS yang mengukur pergerakan the terhadap sejumlah mata uang utama terpantau melemah. Pada akhir perdagangan Rabu atau Kamis pagi WIB, indeks dolar AS turun 0,334 persen menjadi 92,84 lantaran selera terhadap aset berisiko mengalami peningkatan dipicu oleh laba yang kuat dan ekspektasi lebih banyak langkah stimulus untuk ekonomi global yang saat ini dilanda pandemi virus corona (Covid-19).

Para AS dan Eropa menumpuk saham pada Rabu (5/8) usai perusahaan-perusahaan di kedua wilayah tersebut membukukan laporan laba yang positif. Dolar AS sendiri sebagai mata uang safe haven biasanya akan melemah saat lebih nyaman menyimpan aset-aset berisiko.

“Jelas kami telah melihat selera risiko rebound di pasar-pasar global dan semacam pengembalian tema kinerja AS yang relatif rendah terhadap mitra dunia,” ujar Kepala Strategi Pasar Cambridge Global Payments, Karl Schamotta, di Toronto, seperti dilansir Antara.

USD memperpanjang kerugiannya pada Rabu (5/8) usai Laporan Ketenagakerjaan Nasional ADP menunjukkan pertumbuhan penggajian (payroll) swasta AS melambat secara tajam pada Juli 2020. Hal ini sekaligus menunjukkan hilangnya momentum di pasar tenaga kerja. “Data ADP yang lemah pagi ini menunjukkan bahwa kita mungkin melihat kelemahan lebih lanjut ketika payrolls non-pertanian dirilis pada Jumat. Itu membebani prospek dolar relatif terhadap mata uang lainnya,” ungkapnya.

Sementara itu, rupiah diprediksi dapat melanjutkan penguatannya pada perdagangan hari ini karena didukung oleh sentimen eksternal. Menurut Ekonom Bank Central Asia (BCA) David Sumual, sentimen positif untuk rupiah datang usai dolar AS masuk tren pelemahan. “Ketegangan AS dengan China serta ketegangan geopolitik lain membuat dolar AS masuk dalam tren melemah,” jelas David.

Analis Valbury Asia Futures Lukman Leong menambahkan, dolar AS cenderung melemah karena dipengaruhi oleh kekhawatiran stabilitas politik di AS menjelang pemilihan .

Loading...