Rupiah Berhasil Menguat Meski Sentimen Burden Sharing Membayangi

Rupiah - www.cnbcindonesia.comRupiah - www.cnbcindonesia.com

Jakarta dibuka menguat sebesar 72,5 poin atau 0,49 persen ke angka Rp14.705 per AS di awal perdagangan pagi hari ini, Jumat (4/9). Kemarin, Kamis (3/9), nilai tukar Garuda ditutup melemah 32,5 poin atau 0,22 persen ke posisi Rp14.777,5 per USD.

Sementara itu, indeks dolar AS yang mengukur pergerakan the terhadap sejumlah mata uang utama terpantau menguat. Pada akhir perdagangan Kamis atau Jumat pagi WIB, indeks dolar AS dilaporkan naik 0,3 persen ke level 92,96 di tengah kekhawatiran Eropa terhadap kenaikan euro. Oleh sebab itu, banyak investor memutuskan untuk menjual euro.

Usai euro mencapai angka USD1,20 di awal pekan ini, kekhawatiran pun muncul di . Menurut European Central Bank (ECB), apabila euro terus menguat dapat membebani ekspor dan meningkatkan tekanan terhadap stimulus moneter.

“Secara keseluruhan, komentar menunjukkan bahwa tanggapan kebijakan dari ECB untuk membantu melemahkan euro tampaknya tidak mungkin. Mereka akan lebih mengandalkan jawboning untuk meredam kekuatan euro untuk saat ini,” ujar Analis Mata Uang MUFG Lee Hardman, seperti dilansir dari CNBC melalui Okezone.

Menurut laporan Institute for Supply Management, data ekonomi pada Selasa menunjukkan adanya peningkatan aktivitas Amerika Serikat. Hal itu tampak dari lonjakan pesanan baru selama bulan Agustus 2020. Peningkatan permintaan produksi itu pula yang menopang laju Greenback.

Di sisi lain, rupiah hari ini diprediksi akan tertekan oleh kemungkinan program burden sharing pemerintah dan yang berlanjut sampai tahun 2022. Menurut Presiden Komisioner HFX Berjangka Sutopo Widodo, hal itu dapat mendorong inflasi .

“Inflasi yang meningkat buat daya tarik investasi di Indonesia menjadi menurun, sebab pengembalian nyata yang dihasilkan menjadi lebih rendah. Hal ini akan memukul nilai tukar rupiah. Belum lagi tren positif dolar AS belum akan berhenti,” ujar Sutopo, seperti dikutip dari Kontan.

Lebih lanjut Sutopo menambahkan, dari sisi eksternal data tenaga kerja dan upah AS juga ikut memengaruhi gerak rupiah. Apabila data itu tidak sesuai dengan ekspektasi pasar, maka rupiah berpeluang untuk menguat.

Loading...