Belum Mampu Bangkit, Rupiah Terkoreksi 10 Poin di Pembukaan

rupiah - m.akurat.corupiah - m.akurat.co

Jakarta – Kurs Garuda dibuka melemah sebesar 10 poin atau 0,07 persen ke level Rp14.755 per AS di awal pagi hari ini, Kamis (3/9). Kemarin, Rabu (2/9), berakhir terdepresiasi cukup tajam sebesar 172,5 poin atau 1,18 persen ke posisi Rp14.745 per USD.

Indeks dolar AS yang mengukur pergerakan the terhadap enam mata uang utama terpantau menguat. Pada akhir perdagangan Rabu atau Kamis pagi WIB, indeks dolar AS dilaporkan naik 0,53 persen ke angka 92,8489 lantaran para kini sedang mencerna sejumlah data terbaru Amerika Serikat yang telah dirilis.

Pada Rabu (2/9), data penggajian (payrolls) Automatic Data Processing melaporkan bahwa -perusahaan sektor swasta Amerika Serikat telah menambahkan 428.000 pekerjaan pada Agustus 2020. Para ekonom Wall Street telah memprediksi adanya peningkatan 1 juta pekerjaan sektor swasta, menurut Econoday, seperti dilansir Antara.

Kemudian, Indeks Manajer Pembelian (PMI) manufaktur AS juga naik jadi 56 persen pada bulan Agustus 2020, melampaui perkiraan , menurut laporan dari Institute for Supply Management (ISM) pada Selasa (1/9). Angka yang melebihi level 50 persen menandakan adanya ekspansi pada sektor tersebut.

“Dolar AS dapat memperoleh keuntungan dari data ISM yang membaik kemarin, karena menunjukkan pemulihan yang berkelanjutan, sehingga meningkatkan kemungkinan bahwa AS dapat mengatasi krisis secara komparatif dengan lebih baik,” ujar Analis Commerzbank, Thu Lan Nguyen.

Sementara itu, dari dalam negeri Kepala Riset dan Edukasi Monex Investindo Futures Ariston Tjendra menuturkan bahwa rupiah terperosok cukup dalam lantaran nilai tukar regional juga tertekan oleh dolar AS yang menguat sejak awal perdagangan kemarin. “Penguatan dolar AS tersebut dipicu oleh membaiknya data indeks aktivitas manufaktur AS periode Agustus yang dirilis kemarin malam,” ujar Ariston, seperti dikutip dari Kontan.

Ekonom Bank Permata, Josua Pardede menambahkan, deflasi yang terjadi di kawasan Eropa juga ikut menyumbang sentimen negatif untuk rupiah. “Ekonomi kawasan Eropa tertekan membuat dolar AS bisa menguat terhadap major currency,” tandasnya.

Loading...