Pasar Berebut Ambil Untung, Rupiah Diperkirakan Cenderung Melemah

Rupiah - www.jatengpos.comRupiah - www.jatengpos.com

Jakarta hari ini, Rabu (28/10) terpantau melemah 0,44 persen atau 65 poin ke level Rp14.685 per AS menurut data dari Yahoo Finance. Sebelumnya, Selasa (27/10), Garuda berakhir terapresiasi 25 poin atau 0,17 persen ke posisi Rp14.625 per USD.

Indeks dolar AS yang mengukur pergerakan the terhadap sekeranjang mata uang utama terpantau melemah. Pada akhir Selasa atau Rabu pagi WIB, indeks dolar AS turun tipis sebesar 0,1 persen ke angka 92,93 lantaran para pelaku pasar mengambil untung (profit taking) usai kenaikan pada sesi sebelumnya yang juga melihat aksi jual di ekuitas.

Sedangkan kekhawatiran terkait gelombang (Covid-19) kedua dan ketidakpastian jelang pemilihan presiden Amerika Serikat juga terus meningkat. Pada Senin (26/10) terjadi aksi jual pasar saham paling tajam dalam sebulan dan reli obligasi. Namun, aktivitas pasar valuta asing cenderung tenang dengan pergerakan harga terbatas pada Selasa (27/10).

“Pergerakan dan ayunan akan terus berlanjut serta kegelisahan dan kecemasan secara keseluruhan di pasar tentang pemilihan (AS). Anda akan melihat dolar naik turun dan berada dalam mode roller-coaster dalam enam atau tujuh hari ke depan,” ucap Juan Perez, pedagang mata uang di Tempus Inc. di Washington, seperti dilansir dari Antara.

Menurut hasil jajak pendapat memberi keunggulan yang kuat pada kandidat dari Partai Demokrat, Joe Biden atau Presiden AS Donald Trump dalam pilpres pada 3 November 2020 mendatang. Akan tetapi, pemilu tersebut jauh lebih ketat pada negara-negara bagian yang bisa menentukan hasilnya.

Di sisi lain, gerak rupiah usai libur panjang pekan ini diprediksi stagnan cenderung melemah. Pasalnya, bersikap wait and see menjelang pengumuman pilpres AS dan kejelasan stimulus pemerintah. 

Menurut Ekonom Permata Josua Pardede, penguatan rupiah sebelumnya didukung oleh data pertumbuhan ekonomi Korea Selatan yang dinyatakan lebih baik dari perkiraan pasar. “Pemulihan ekonomi di Korea Selatan mulai terlihat ini menyulut menguatnya won dan mata uang Asia, termasuk rupiah terhadap dollar AS,” jelas Josua, seperti dikutip dari Kontan.

Loading...