Data Pengangguran AS Tetap Tinggi, Rupiah Dibuka Melemah Tipis

Rupiah melemah pada hari Jumat (25/9) - www.beritasatu.com

Jakarta – Nilai tukar mata uang Garuda dibuka melemah tipis sebesar 1,5 poin ke angka Rp14.891,5 per di awal pagi hari ini, Jumat (25/9). Kemudian lanjut melemah 10 poin atau 0,07 persen ke Rp14.900/. Kemarin, Kamis (24/9), kurs rupiah ditutup terdepresiasi 75 poin atau 0,51 persen ke posisi Rp14.890 per .

Indeks dolar AS yang mengukur pergerakan the terhadap enam mata uang utama terpantau sedikit melemah. Pada akhir perdagangan Kamis atau Jumat pagi WIB, indeks dolar AS tergelincir 0,04 persen menjadi 94,3565 usai menyentuh level tertinggi dua bulan di awal sesi perdagangan. Penurunan dolar AS ini terjadi setelah data terbaru menunjukkan bahwa klaim pengangguran Amerika Serikat secara tak terduga tetap tinggi.

Menurut laporan Departemen AS pada Kamis, klaim pengangguran awal AS, cara kasar untuk mengukur tingkat PHK, naik 4.000 jadi 870.000 dalam pekan yang berakhir pada 19 September 2020. Angka tersebut rupanya lebih buruk dari prediksi para analis.

Klaim tunjangan pengangguran yang berkelanjutan atau jumlah orang yang telah menerima manfaat, mencapai 12,6 juta pada pekan yang berakhir 12 September 2020. Sedangkan para ekonom memperkirakan klaim awal pengangguran sebesar 840.000 dan klaim lanjutan 12,3 juta, berdasarkan perkiraan median dalam survei Bloomberg, seperti dilansir Antara.

Dari dalam negeri, Ekonom Bank Central Asia (BCA) David Sumual memperkirakan rupiah masih akan lanjut melemah pada perdagangan akhir pekan ini. Salah satu katalis utamanya karena pelemahan modal di Amerika Serikat yang kemudian menjalar ke bursa Asia. “Sentimennya didominasi eksternal, karena ketidakpastian yang meningkat terlebih soal stimulus di AS dan ketidakpastian jelang pemilu,” beber David, seperti dikutip dari Kontan.

Di samping itu, melemahnya rupiah jadi daya tarik untuk para eksportir untuk menjual dolar AS. Terlebih karena tren ekspor komoditas belakangan ini mulai menunjukkan pemulihan. Research & Development ICDX Nikolas Prasetia menambahkan, perkembangan kasus (Covid-19) di Indonesia yang terus mencatat rekor baru pun turut membebani rupiah.

“Jika berlanjut, ini bisa menyebabkan kelumpuhan , belum lagi sudah ada sinyal resesi dari Menteri Keuangan Sri Mulyani di kuartal III-2020, dimana pertumbuhan bisa -2,9% hingga -1,1%,” ungkap Niko.

Loading...