Dolar AS Masih Perkasa, Rupiah Hari Ini Diprediksi Kembali Melemah

Rupiah - kabar.newsRupiah - kabar.news

Jakarta rupiah mengawali perdagangan pagi hari ini, Kamis (24/9), dengan pergerakan cenderung stagnan di posisi Rp14.815 per . Namun, tak lama kemudian rupiah tergelincir 10 poin atau 0,07 persen ke angka Rp14.825/USD. Kemarin, Rabu (23/9) sore, kurs Garuda berakhir terdepresiasi 30 poin atau 0,2 persen ke level Rp14.815 per USD.

Sementara itu, indeks AS yang mengukur pergerakan the Greenback terhadap sekeranjang mata uang utama terpantau menguat untuk hari keempat berturut-turut. Pada akhir perdagangan Rabu atau Kamis pagi WIB, indeks AS naik 0,43 persen menjadi 94,3914 saat permintaan terhadap safe haven meningkat di tengah gerak liar di keuangan dan investor mempertanyakan kecepatan pemulihan kondisi di tengah tingginya kasus (-19).

“Pasar terus mengevaluasi kembali sikap yang sebelumnya sangat optimistis terhadap status risiko global di luar sana,” ujar Ben Randol, ahli strategi valas senior di BofA Securities di New York, seperti dilansir Reuters melalui Antara. “Arus berita negatif tentang virus dan negatif tentang . Kami memiliki beberapa data yang payah dan juga kami memiliki pembicara Fed yang telah bersikap kurang dovish dari perkiraan pasar,” imbuhnya.

Di sisi lain, Analis Pasar Uang Bank Mandiri Reny Eka Putri berpendapat jika tren pergerakan rupiah masih cenderung melemah. Hal itu dikarenakan masih tingginya penambahan kasus baru Covid-19 di Indonesia, terutama ketika Pembatasan Sosial Berskala Besar (PSBB) kembali diperketat. “Pelemahan rupiah akan berlanjut pada Kamis (24/9) di kisaran Rp14.774 per dolar AS hingga Rp14.824 per dolar AS,” ujar Reny, seperti dilansir dari Kontan.

Dari sisi eksternal, pernyataan sejumlah petinggi Federal Reserve AS pun masih menjadi fokus para pelaku pasar. Perkembangan tentang rencana stimulus dan kebijakan moneter dari Amerika Serikat masih jadi sorotan.

Tak jauh berbeda, Head of Economics Research Pefindo Fikri C Permana menilai pelemahan rupiah masih berlanjut dan bahkan berpotensi lebih besar. “Pada Kamis (24/9) kemungkinan melemah sangat besar, karena jumlah penjualan rumah di AS yang sangat tinggi selama Agustus 2020,” jelasnya.

Loading...