Gara-gara Sentimen Eksternal, Rupiah Pagi Ini Tergelincir

Rupiah - republika.co.idRupiah - republika.co.id

Jakarta di awal pagi hari ini, Jumat (23/10), dibuka melemah sebesar 5 poin atau 0,03 persen ke angka Rp14.665 per dolar AS. Kemarin, Kamis (22/10), Garuda berakhir terdepresiasi sebesar 27,5 poin atau 0,19 persen ke posisi Rp14.660 per USD.

Indeks dolar AS yang mengukur pergerakan the terhadap enam mata uang utama terpantau menguat. Pada akhir perdagangan Kamis atau Jumat pagi WIB, nilai tukar dolar AS naik tipis sebesar 0,22 persen menjadi 92,932 namun masih bergerak fluktuatif pada kisaran yang sempit. Penguatan USD ini terjadi saat harapan paket bantuan (Covid-19) menjelang pemilu AS memudar dan kasus Covid-19 mengalami lonjakan di seluruh dunia, sehingga memberi sedikit tawaran untuk aset safe haven seperti dolar AS.

Para pelaku kini sedang mencerna data baru klaim pengangguran Amerika Serikat yang menunjukkan penurunan lebih besar dari konsensus , namun tetap pada level yang sangat tinggi di tengah memudarnya stimulus fiskal dan kebangkitan kembali Covid-19.

“Pasar mulai sedikit lelah bolak-balik pada pembicaraan stimulus. Tampaknya saat ini kedua belah pihak tidak akan memberikan cukup konsesi sehubungan dengan pemilihan, yang sebenarnya masuk akal, sejauh kebutuhan mereka, untuk menyelesaikan kesepakatan,” ucap Joseph Trevisani, analis senior di FXStreet.com, seperti dilansir Reuters melalui Antara.

Menurut Head of Economics Research Pefindo Fikri C. Permana, melemahnya rupiah pada perdagangan sebelumnya mayoritas diakibatkan oleh sentimen eksternal. Salah satunya karena kondisi Amerika Serikat menjelang pemilihan presiden serta campur tangan Iran dan Rusia yang menambah ketidakpastian pasar.

Berikutnya, rupiah juga melemah karena terimbas oleh risiko stimulus AS yang kemungkinan akan lebih lambat tercapai. Ketua DPR AS dari Partai Demokrat, Nancy Pelosi meminta adanya pertemuan baru untuk membahas stimulus yang masih memperoleh pertentangan dari Senat Republik. “Stimulus AS yang masih banyak dipertimbangkan membuat ekspektasi indeks dolar AS untuk menurun jadi ikut tertunda,” ucap Fikri, seperti dikutip Kontan.

Loading...