Menguat di Pembukaan, Tak Lama Kemudian Rupiah Berbalik Melemah

Rupiah - www.covesia.comRupiah - www.covesia.com

Jakarta dibuka menguat sebesar 7,5 poin ke angka Rp13.992,5 per AS di awal pagi hari ini, Jumat (22/1). Sayangnya, rupiah kemudian berbalik melemah 10 poin atau 0,07 persen ke Rp14.010/USD. Kemarin, Kamis (21/1), Garuda berakhir terapresiasi 35 poin atau 0,25 persen ke posisi Rp14.000 per USD.

Sementara itu, indeks yang mengukur pergerakan the terhadap sekeranjang mata uang utama terpantau melemah. Pada akhir perdagangan Kamis atau Jumat pagi WIB, kurs dolar AS turun 0,3 persen menjadi 90,103. Hal ini sekaligus menandai penurunan USD untuk tiga hari berturut-turut. Pelemahan dolar AS terjadi saat para investor mencari mata uang berimbal hasil lebih tinggi, saat Amerika Serikat lebih baik dari prediksi dan berlanjutnya optimisme mengenai stimulus besar-besaran yang mendorong pemulihan kondisi ekonomi.

Di sisi lain, bank sentral Eropa (ECB) memutuskan untuk menahan suku bunga tetap stabil pada Kamis (21/1) sekaligus berjanji untuk memberi lebih banyak dukungan bagi perekonomian apabila dibutuhkan. Pada Kamis, data AS terbaru juga menunjukkan bahwa ekonomi perlahan memperoleh traksi, dengan klaim pengangguran awal sedikit lebih baik dari perkiraan, data pembangunan perumahan yang positif, serta indeks pabrik yang lebih tinggi untuk kawasan Mid-Atlantik.

“Di seluruh aset, optimisme tentang pertumbuhan tinggi dan menurut saya itu tepat,” ujar Manajer Portofolio Pendapatan Tetap Global Brandywine Global Investment Management, Anujeet Sareen, di Philadelphia, seperti dilansir Antara. “Kami melihat dolar melemah karena pertumbuhan global akan menjadi lebih baik, neraca perdagangan memburuk, dan Federal Reserve akan mempertahankan kebijakan moneternya yang longgar,” imbuhnya.

Dari dalam negeri, rupiah diprediksi bakal melemah tipis pada perdagangan akhir pekan ini. Menurut Analis Global Kapital Investama Alwi Assegaf, proses inaugurasi Presiden AS Joe Biden meningkatkan risk on pasar dan membawa dampak positif untuk rupiah. Akan tetapi, rupiah berisiko melemah apabila euro melemah terhadap dolar AS. “Jika euro terkoreksi maka dolar AS bisa mengaut dan berimbas juga ke pelemahan rupiah,” ungkap Alwi, seperti dikutip Kontan.

Sementara itu, Ekonom Bank Mandiri Reni Eka Puteri berpendapat bahwa keputusan Bank Indonesia (BI) yang menahan suku bunga di level 3,75 persen berpotensi membuat gerak rupiah stabil. “Pergerakan rupiah besok didominasi data AS dan Eropa, dari domestik tidak ada,” katanya.

Loading...