Dolar Rebound Terkerek Optimisme Pasar, Rupiah Lagi-lagi Keok di Pembukaan

Rupiah - en.tempo.coRupiah - en.tempo.co

Jakarta membuka pagi hari ini, Rabu (17/2), dengan pelemahan sebesar 20 poin ke level Rp13.950 per AS. Sebelumnya, Selasa (16/2), nilai tukar Garuda berakhir terdepresiasi 20 poin atau 0,14 persen ke posisi Rp13.930 per USD menurut data dari Index.

Sementara itu, indeks dolar AS yang mengukur pergerakan the terhadap sekeranjang mata uang utama terpantau rebound. Pada akhir perdagangan Selasa atau Rabu pagi WIB, USD naik 0,21 persen ke angka 90,508, usai sebelumnya merosot ke 90,117, level terendah sejak 26 Januari 2021. Dolar AS berhasil rebound karena terangkat oleh kenaikan imbal hasil obligasi pemerintah Amerika Serikat ke posisi tertinggi sebelum pandemi Covid-19 dan sentimen yang bullish.

Optimisme saat ini digaungkan oleh Presiden St. Louis James Bullard, yang mengungkapkan dalam sebuah wawancara di CNBC bahwa kondisi keuangan AS secara umum baik, dan bahwa inflasi kemungkinan akan memanas tahun ini. 

Kemudian, laporan manufaktur Empire State yang optimis dari The Fed New York menawarkan gambaran ekonomi yang lebih cerah daripada yang ditunjukkan data yang dirilis pekan lalu. “Imbal hasil tinggi memberikan dolar dengan sedikit dukungan. Tapi banyak orang percaya kenaikan imbal hasil akan dibarengi dengan inflasi yang lebih tinggi,” ujar Shaun Osborne, kepala strategi valas di Scotiabank di Toronto, seperti dilansir Antara.

“Saya tidak yakin aksi hari ini memberi tahu kami banyak hal tentang tren keseluruhan. Saya pikir dolar kemungkinan akan diperdagangkan lebih lemah ke depannya,” imbuh Osborne.

Sedangkan dari dalam negeri, Ekonom Bank Mandiri Reny Eka Puteri menilai bahwa penguatan tajam rupiah hingga level Rp14.000/USD tak terlepas dari berbagai sentimen yang telah menguntungkan rupiah. Misalnya sentimen eksternal terkait stimulus AS yang sudah mulai menemukan titik terang dan disambut oleh optimisme .

Selain itu, data ekonomi Indonesia juga positif, mulai dari surplus neraca perdagangan yang masih berlanjut, inflasi terjaga, hingga cadangan devisa yang masih tinggi. Terlebih karena ada inflow atau aliran masuk dana asing di pasar saham maupun obligasi, meskipun belum sederas kondisi normal.

“Jadi optimisme pasar akhirnya mendorong laju bullish rupiah beberapa hari terakhir. Namun, kami melihat, secara fundamental dan valuasi, rupiah idealnya ada di kisaran Rp14.000 per dolar AS-Rp14.100 per dolar AS. Sehingga potensi koreksi masih terbuka,” ujar Reny, seperti dikutip dari Kontan.

Loading...