Pasar Nantikan Data Neraca Dagang, Rupiah Menguat ke Level Rp14.060/USD

Rupiah - koinworks.comRupiah - koinworks.com

Jakarta dibuka menguat sebesar 28 poin ke level Rp14.060 per AS di awal pagi hari ini, Jumat (15/11). Sebelumnya, Kamis (14/11), Garuda berakhir melemah tipis 9 poin atau 0,06 persen ke posisi Rp14.088 per USD.

Indeks dolar AS yang mengukur pergerakan the terhadap sejumlah mata uang utama terpantau melemah. Pada akhir perdagangan Kamis atau Jumat pagi WIB, kurs dolar AS dilaporkan turun 0,22 persen menjadi 98,159 lantaran para pelaku terdorong untuk mengalihkan harta mereka ke aset-aset save haven usai adanya laporan bahwa AS dan China tengah berjuang menyelesaikan kesepakatan dagang fase satu dan saat penyelidikan pemakzulan Presiden Amerika Serikat Donald Trump makin intens.

“Kami memulai pagi ini dengan sedikit penghindaran risiko ringan. Itu berlanjut – selama sesi – untuk mendorong dolar/yen turun,” ujar Shaun Osborne, kepala strategi valuta asing di Scotia Capital, seperti dilansir Xinhua melalui Antara.

Sementara itu, pada Kamis (14/11), Departemen Tenaga Kerja Amerika Serikat juga melaporkan bahwa harga AS naik paling banyak dalam 6 bulan pada Oktober 2019. Hal itu pula yang ditengarai akan memperkuat sikap bahwa mungkin mereka tak akan menurunkan suku bunga acuan lagi dalam waktu dekat.

“Fakta bahwa inflasi grosir mengejutkan naik, saya pikir memang berbicara dengan narasi bahwa PCE inti akan mencapai atau bahkan melanggar target Fed sebesar dua persen,” ungkap Paresh Upadhyaya, direktur strategi mata uang dan manajer portofolio di Amundi Pioneer Investments.

Rupiah sendiri kemarin melemah karena perang dagang AS dan China yang disebut-sebut kembali memanas. Menurut Analis Valbury Asia Futures, Lukman Leong, gerak rupiah kemarin lebih banyak dipengaruhi oleh faktor teknikal.

Pada hari ini, data neraca perdagangan Indonesia akan dirilis. Apabila defisit neraca perdagangan tak terlalu lebar, maka rupiah dapat berpotensi untuk menguat. “Harga minyak mulai turun, tapi tidak membawa sentimen positif yang signifikan, sehingga defisit masih ada, tinggal seberapa tinggi defisitnya,” ujar Ekonom Pefindo Fikri C. Permana, seperti dikutip dari Kontan.

Loading...