Belum Ada Sentimen Pendukung, Kurs Rupiah Jatuh ke Rp14.799/USD

Rupiah - pojokpulsa.co.idRupiah - pojokpulsa.co.id

Jakarta – Kurs dibuka melemah sebesar 24 poin atau 0,16 persen ke angka Rp14.799 per AS di awal pagi hari ini, Jumat (14/8). Kemarin, Kamis (13/7) sore, Garuda berakhir terdepresiasi 15 poin atau 0,10 persen ke posisi Rp14.775 per USD.

Indeks dolar AS yang mengukur pergerakan the terhadap enam mata uang utama terpantau melemah. Pada akhir perdagangan Kamis atau Jumat pagi WIB, indeks dolar AS sedikit lebih rendah di posisi 93,316 lantaran tertekan oleh kebuntuan di Kongres terkait tambahan stimulus Amerika Serikat untuk membantu mengatasi pandemi (-19).

Pasar kini tengah fokus mencermati pembicaraan paket stimulus yang macet pekan lalu. Pendanaan untuk pos AS, US Postal Service dan untuk menopang infrastruktur pemilihan menjadi poin penting pada pembicaraan kongres terkait bantuan virus corona, saat Presiden AS Donald Trump berjanji untuk memblokir uang apapun untuk memfasilitasi pemungutan suara lewat antaran pos.

Pada Rabu (12/8), Trump menuduh anggota Kongres dari Demokrat tak ingin merundingkan paket bantuan virus corona AS saat negosiator Republik dan Demokrat saling menyalahkan atas penundaan 5 hari dalam pembicaraan seputar undang-undang bantuan.

“Kebuntuan atas paket stimulus mengganggu. Menaruh lebih banyak bantuan di atasnya, yang sedang coba dilakukan oleh pemerintah sekarang, tidak bertahan lama,” ucap Amo Sahota, direktur di perusahaan penasihat mata uang Klarity FX di San Francisco.

Sementara itu, di akhir pekan ini rupiah diprediksi belum mampu menyelamatkan diri dari tekanan. Menurut Head of Economics Research Pefindo Fikri C Permana, rupiah berpotensi melanjutkan pelemahannya pada hari ini. Pasalnya, baik dari sentimen eksternal maupun internal sejauh ini belum memberi katalis positif untuk rupiah, bahkan cenderung menahan laju rupiah.

“Dari sentimen luar, kenaikan yield US Treasury mendorong investor global kembali berpaling ke pasar keuangan AS. Akibatnya indeks dolar meningkat dan akan kembali melemahkan semua mata uang global terhadap dolar AS, termasuk rupiah,” kata Fikri, seperti dikutip dari Kontan.

Loading...