Melemah Tipis di Pembukaan, Kurs Rupiah Hari Ini Diprediksi Bakal Menguat

Rupiah - manado.tribunnews.comRupiah - manado.tribunnews.com

Jakarta mengawali pagi hari ini, Kamis (11/2), dengan pelemahan sebesar 2,5 poin atau 0,2 persen ke angka Rp13.985 per AS. Kemarin, Rabu (10/2), nilai tukar Garuda berakhir menguat 12,5 poin atau 0,09 persen ke posisi Rp13.982,5 per USD.

Indeks dolar AS yang mengukur pergerakan the terhadap enam mata uang utama terpantau jatuh. Pada akhir perdagangan Rabu atau Kamis pagi WIB, kurs dolar AS turun 0,1 persen menjadi 90,377 usai mendarat di level terendah dua minggu di 90,249, membukukan penurunan hari ketiga. Penurunan dolar AS terjadi karena tertekan oleh data Amerika Serikat yang menunjukkan inflasi kurang agresif dan imbal hasil yang lebih rendah. Imbal hasil acuan 10 tahun AS terakhir berada di 1,137 persen, turun 2 basis poin dari posisi Selasa (9/2).

Pernyataan bernada dovish dari Gubernur AS (Federal Reserve) Jerome Powell pun tidak berhasil mengatrol dolar AS. Pasalnya, Powell menegaskan bahwa The Fed akan memertahankan pada level saat ini hingga ekonomi mencapai lapangan kerja maksimum dan inflasi tetap di atas 2,0 persen selama beberapa waktu.

“Penguatan dolar pasti telah kehilangan momentum dan tren kelemahan yang mendasari kemungkinan bisa berlanjut. Tindakan hari ini benar-benar berpusat di sekitar IHK. Pasar memperkirakan inflasi akan naik sedikit dan itu tidak berbahaya pada saat ini. Perdagangan reflasi belum cukup sampai di sana,” ucap Amo Sahota, direktur eksekutif di Klarity FX di San Francisco, seperti dilansir Antara.

Sementara itu, Direktur PT TRFX Garuda Berjangka Ibrahim Assuaibi berpendapat bahwa gerak rupiah pada hari ini masih akan lanjut menguat. “Sentimen yang mendominasi masih dari eksternal, khususnya terkait stimulus AS,” kata Ibrahim, seperti dikutip dari Kontan.

Ia menjelaskan, selama dua minggu terakhir kurs dolar AS mendekati posisi terendah karena untuk aset yang lebih pada Rabu kemarin cenderung lesu. Hal ini terjadi seiring dengan ekspektasi adanya pemulihan ekonomi dunia akibat pandemi virus corona (Covid-19), didorong oleh stimulus fiskal dan moneter secara besar-besaran.

Loading...