ECB Optimis dengan Prospek Pemulihan Ekonomi, Rupiah Rebound di Pembukaan

Rupiah - www.jitunews.comRupiah - www.jitunews.com

Jakarta rupiah dibuka rebound atau menguat sebesar 31,5 poin atau 0,21 persen ke posisi Rp14.767,5 per AS di awal pagi hari ini, Kamis (10/9). Kemarin, Rabu (9/9), Garuda berakhir melemah 34 poin atau 0,23 persen ke level Rp14.799 per USD.

Sementara itu, indeks dolar AS tergelincir dari level tertinggi empat minggu. Pada akhir perdagangan Rabu atau Kamis pagi WIB, indeks dolar AS melemah 0,3 persen menjadi 93,265 usai sebuah berita mengungkapkan pejabat Bank Sentral Eropa (ECB) menjadi lebih percaya diri terkait prospek pemulihan di zona tersebut.

Dolar AS juga tertekan oleh peningkatan sentimen risiko saat saham-saham Amerika Serikat rebound dari aksi jual yang tajam dan karena harga minyak mentah lebih tinggi mendorong kenaikan mata uang . Akan tetapi, sejumlah analis memperkirakan dolar akan menahan kenaikan baru-baru ini usai penurunan tajam dalam beberapa bulan belakangan.

Sementara itu, ECB memproyeksikan dan inflasi mendatang hanya akan menunjukkan sedikit perubahan dari prospek Juni 2020, dengan produk domestik bruto (PDB) tahun ini akan direvisi lebih tinggi, demikian seperti dilansir dari News melalui Antara. Laporan itu muncul menjelang pertemuan kebijakan moneter ECB pada Kamis, sehingga memicu pembelian euro.

“Sepertinya masih ada optimisme yang kuat tentang pemulihan zona euro. Ini akan membutuhkan lebih banyak dukungan, tetapi keadaan tidak seburuk yang diyakini semula,” ungkap Analis Senior OANDA, Edward Moya, di New York.

Dari dalam negeri, Head of Economics Research Pefindo Fikri C Permana berpendapat pelemahan rupiah pada perdagangan hari ini kemungkinan masih akan disebabkan oleh tertekannya aset berisiko. Hal itu dinilai Fikri berdasar Credit Default Swap (CDS) Indonesia yang terus naik dari akhir bulan Agustus 2020.

“Dari sentimen eksternal, harga minyak dunia yang semakin turun memungkinkan harga komoditas lain ikut turun. Belum lagi tensi perdagangan AS-China yg kembali meningkat seiring permintaan pemilu dipercepat di Hong Kong,” terang Fikri, seperti dikutip dari Kontan.

Peningkatan kasus (Covid-19) di Indonesia pun ikut menahan laju rupiah. Terlebih karena diprediksi kluster pilkada akan jadi sumber baru penyebaran Covid-19.

Loading...