Kurs Rupiah Ikutan Melorot di Tengah Pelemahan Dolar AS

Rupiah - bisnis.comRupiah - bisnis.com

Jakarta Garuda dibuka melemah tipis sebesar 2,5 poin atau 0,02 persen ke posisi Rp13.997,5 per AS di awal pagi hari ini, Rabu (10/2). Sebelumnya, Selasa (9/2), berakhir terapresiasi 7,5 poin atau 0,05 persen ke angka Rp13.995 per USD.

Indeks dolar AS yang mengukur pergerakan the terhadap sejumlah mata uang utama terpantau melemah. Pada akhir perdagangan Selasa atau Rabu pagi WIB, kurs dolar AS melorot 0,6 persen menjadi 90,54, usai sebelumnya menginjak level terendah dua minggu. Pelemahan USD terjadi lantaran sentimen risiko membaik pada sesi sore di tengah kenaikan pasar dan ketika imbal hasil obligasi Amerika Serikat menguat.

“Pasar valas telah mengambil beberapa isyaratnya dari pasar ekuitas,” ujar Simon Harvey, analis senior pasar valas di Monex Eropa di London, seperti dilansir Antara. “Ada ekspektasi tinggi bahwa paket stimulus sebenarnya akan lebih tinggi dari yang diperkirakan. Pemerintahan Biden sedang melalui rekonsiliasi yang berarti pelepasan stimulus kurang tepat waktu tetapi paket yang lebih besar,” imbuhnya.

Data pekerjaan AS yang mengecewakan pada Jumat (5/2) telah menghentikan reli dua minggu yang berhasil mengatrol dolar AS ke level tertinggi lebih dari dua bulan di angka 91,60. Menurut Shaun Osborne, kepala ahli valas di Scotiabank di Toronto, kerugian dolar ASpada titik ini sedikit prematur. “Terutama karena indikator pemosisian menunjukkan bahwa pedagang aktif terus mengurangi apa yang masih menjadi eksposur short dolar AS yang cukup signifikan,” katanya.

Di sisi lain, isyarat pengesahan stimulus ekonomi AS yang semakin jelas telah membuat rupiah bergerak menguat terhadap dolar AS. “Minat investor pada aset berisiko tinggi kembali muncul setelah optimisme pengesahan stimulus fiskal AS semakin dekat untuk terealisasi,” kata Kepala Riset Monex Investindo Futures Ariston Tjendra, seperti dikutip dari Kontan.

Minat investor terhadap aset berisiko juga tampak dari indeks saham yang berakhir menguat, bahkan sempat mencapai rekor tertinggi baru pada Senin (8/2). Ariston memprediksi rupiah masih berpeluang menguat hari ini, meski tertahan oleh kenaikan yield US Treasury.

Loading...