Awal Bulan Rupiah Rebound Karena Ketidakpastian Prospek Ekonomi AS

Rupiah - www.teropongbisnis.comRupiah - www.teropongbisnis.com

Jakarta – Kurs mengawali perdagangan pagi hari ini, Rabu (1/7), dengan penguatan sebesar 20 poin atau 0,16 persen ke level Rp14.245 per AS. Sebelumnya, Selasa (30/6), Garuda berakhir terdepresiasi 20 poin atau 0,14 persen ke posisi Rp14.265 per USD.

Indeks dolar AS yang mengukur pergerakan the terhadap sekeranjang mata uang utama terpantau melemah. Pada akhir perdagangan Selasa atau Rabu pagi WIB, indeks dolar AS turun menjadi 97,380. Untuk kuartal dan bulan, indeks dolar AS terkoreksi masing-masing sebesar 1,6 persen dan hampir 1,0 persen. Angka tersebut merupakan kinerja bulanan terburuk untuk dolar AS sejak Desember 2019.

“Dolar sedang berkonsolidasi sekarang. Pergerakan naik pada dolar benar-benar dimulai pada 10 Juni dan jadi saya pikir kita bisa melihat satu leg kenaikan lagi dalam dolar. Ketika kita memasuki Juli, ada beberapa ketidakpastian – hari ini misalnya adalah hari terakhir PPP (program perlindungan gaji) dan pada akhir bulan depan adalah akhir dari klaim pengangguran, kecuali jika diperpanjang,” kata Marc Chandler, kepala , di Bannockburn Forex di New York seperti dilansir Reuters melalui Antara.

Sementara itu, menurut Analis Kapital Investama, Alwi Assegaf, jumlah pasien terinfeksi (Covid-19) terus bertambah secara sehingga mengakibatkan para investor khawatir akan kemungkinan adanya gelombang kedua walaupun gelombang pertama Covid-19 belum selesai. “Beberapa kawasan di AS dan Inggris membatalkan pembukaan ekonominya dan pembatasan kembali dijalankan setelah sempat protokol dilonggarkan,” ujar Alwi, seperti dikutip dari Kontan.

Kemungkinan lockdown kembali dilakukan dapat mengancam percepatan pemulihan kondisi ekonomi serta menekan gerak rupiah. Alhasil, para pelaku pasar sekarang kembali menjauhi aset berisiko dan mengumpulkan dolar AS sebagai safe haven.

Walau demikian, Alwi memperkirakan jika rupiah berpeluang untuk rebound apabila Gubernur Jerome Powell dan Menteri Keuangan AS Steven Mnuchin dapat menenangkan pasar melalui pidatonya terkait prospek pemulihan ekonomi yang disampaikan hari ini.

Sentimen positif untuk rupiah pun berasal dari data PMI Manufaktur China yang mengalami pertumbuhan pada periode Juni 2020 dari angka 50,6 menjadi 50,9. Alwi pun memperkirakan data manufaktur dalam negeri dapat membaik lantaran ekonomi sudah dibuka pada fase new normal.

Loading...