Krisis Pengungsi Rohingya di Bangladesh Berpotensi Picu Terorisme

Muslim Rohingya - internasional.republika.co.id

BANGLADESH – Semakin banyak Rohingya yang melakukan eksodus ke negeri tetangga Bangladesh karena tekanan dari pemerintah Myanmar. pengungsi yang sudah mencapai setengah juta jiwa ini tidak hanya membuat pemerintah Bangladesh kesulitan untuk memberikan bantuan dan -obatan, tetapi menimbulkan kekhawatiran munculnya yang bisa mengakibatkan guncangan di kawasan secara keseluruhan.

Eksodus minoritas Muslim Myanmar dimulai pada akhir Agustus lalu. Hanya dalam sebulan, jumlah pengungsi mencapai setengah juta jiwa, yang lantas mendorong pemerintah Bangladesh dan organisasi bantuan internasional untuk memulai operasi bantuan yang belum pernah terjadi sebelumnya. Krisis tersebut berlangsung saat Tentara Pembebasan Rohani Arakan, sebuah kelompok militan Rohingya, menyerang pos keamanan Myanmar pada 25 Agustus.

“Sedikitnya 500 ribu warga sipil telah meninggalkan rumah mereka dan mencari keamanan di Bangladesh,” papar Sekretaris Jenderal PBB, Antonio Guterres pada 28 September lalu, seperti dikutip Nikkei. “Setidaknya, 176 dari 471 desa Muslim di Negara Bagian Rakhine sebelah utara telah benar-benar ditinggalkan oleh penduduknya.”

Bangladesh pun ‘terguncang’ dengan besarnya warga yang mengungsi ke wilayah mereka. Menurut asisten komisaris dan hakim eksekutif Distrik Cox’s Bazar, Selin Sheikh, mengakomodasi jumlah pengungsi ini bukan hanya tidak mudah, tetapi juga tidak mungkin. “Apakah jumlah ini akan segera sampai 600 ribu atau 700 ribu? Apa yang bisa kita lakukan?” katanya.

Bangladesh sendiri sangat ingin membendung arus. Distrik Cox’s Bazar berbagi perbatasan darat dan sungai dengan Myanmar, dengan setengah dari distrik tersebut membentuk semenanjung. Patroli perbatasan Bangladesh memang menghentikan pengungsi di sekitar bagian utara semenanjung tersebut. Tetapi, di sekitar Teknaf, di tepi semenanjung, para pengungsi terus menyeberang dengan kapal.

“Mengenai persediaan makanan dan air untuk para pengungsi, pemerintah Bangladesh ‘dapat terus membantu’ selama World Food Program dan badan-badan internasional lainnya tetap menawarkan bantuan,” sambung Sheikh. “Jika lebih banyak pengungsi yang tiba, bagaimanapun, akan menjadi tidak mungkin untuk memelihara hukum dan ketertiban, atau keamanan di kabupaten ini.”

Hal yang paling dikhawatirkan pemerintah Bangladesh adalah prospek gerilyawan Rohingya bersenjata masuk ke kamp pengungsian. Tak lama setelah arus masuk dimulai, patroli perbatasan telah menangkap dua pengungsi yang membawa senjata api. “Meski menemukan solusi untuk persediaan makanan, air, obat-obatan, dan tempat penampungan, kami tidak dapat mencegah aktivitas teroris jika skala pengungsi terus berkembang,” lanjut Sheikh.

Bangladesh sudah berusaha untuk memperbaiki keamanan dalam negeri setelah serangan teroris yang mematikan di Dhaka pada bulan Juli 2016. Jika krisis pengungsi terus lepas kendali, hal itu dapat mengganggu kestabilan bagian timur negara tersebut, yang mungkin menciptakan tempat berkembang biak bagi kelompok-kelompok teroris di luar jangkauan pemerintah, seperti yang terjadi di Suriah, Irak, dan Afghanistan.

Terorisme hanyalah bagian dari persamaan. Sejumlah besar pengungsi mengancam untuk memicu kerusuhan sosial di Bangladesh dan negara-negara lain untuk membuka pintu bagi mereka. “Ada risiko serius bahwa kejadian di Rakhine menarik para pejuang teroris dari tempat lain, seperti yang terjadi di Mindanao di Filipina, dan selanjutnya melakukan pemberontakan di dalam negeri,” ulas pakar Asia Tenggara di Eurasia Group, Peter Mumford.

Malaysia dan Indonesia, negara-negara berpenduduk mayoritas Muslim yang telah mengecam Myanmar atas perlakuan terhadap masyarakat Rohingya, tampaknya sangat menyadari risiko terorisme. mengatakan Malaysia, yang telah menerima 100.000 migran Rohingya sejak tahun 2015, bersedia menerima lebih banyak, tetapi akan memperketat penyaringan.

Sementara, Indonesia, Joko Widodo, pada pertengahan September lalu telah mengirim Menteri Luar Negeri, Retno Marsudi, ke Bangladesh, yang dilaporkan bertujuan untuk memperpanjang bantuan kemanusiaan. Indonesia juga menawarkan untuk menerima 1.000 pengungsi, yang sayangnya tidak akan mengurangi beban Bangladesh.

Loading...