Krisis Lahan Subur, Benua Asia Terancam Kekurangan Pasokan Pangan

Krisis Lahan Subur, Benua Asia Terancam Kekurangan Pasokan Pangan

HONG KONG – Ekonomi di kawasan memang bisa dikatakan tumbuh pesat dalam beberapa tahun terakhir, sekaligus mendorong masyarakat di Benua Kuning memiliki lebih banyak uang. Sayangnya, uang mereka mungkin tidak dapat dibelikan sesuai dengan apa yang mereka butuhkan, karena saat ini menghadapi kendala kekurangan subur yang mengakibatkan rendahnya produktivitas .

“Meski pertumbuhan penduduk di cukup melambat, tetapi permintaan akan makanan masih sangat meningkat, sangat banyak karena tumbuhnya populasi masyarakat menengah,” ujar CEO Rabobank Asia, Diane Boogaard, seperti disitat Nikkei. “Sayangnya, tidak ada cukup lahan untuk memenuhi permintaan tersebut, meski ada beras terbesar di dunia (China, India, dan Indonesia). Asia mengimpor sebagian besar makanan dan agribisnis mereka.”

Tiga perempat dunia memang berada di Asia, namun wilayah ini hanya memiliki rata-rata kurang dari satu hektar lahan subur per orang, jauh dibandingkan dengan lima hektar lahan per orang di wilayah AS. Menurut Boogard, tanah di Asia sedang terdegradasi oleh over-utility, yang membuat beralih dari lahan yang baik ke lahan yang kurang efektif.

“Wilayah ini didominasi oleh petani kecil atau pemain subsisten yang berjuang dengan hak atas tanah,” sambung Boogard. “Tanpa hak ini, petani tidak memiliki sarana untuk menawarkan agunan untuk melakukan pembiayaan, yang justru sangat penting bagi mereka guna meningkatkan produktivitas pertanian. Anda otomatis membutuhkan dana untuk berinvestasi pada bibit, bagus, dan mesin.”

Bulan Oktober lalu, pemberi pinjaman makanan dan pertanian yang berbasis di Utrecht ini telah meluncurkan sebuah inisiatif senilai 1 miliar dolar AS di seluruh dunia. yang disebut ‘Kickstart Food’ dan bekerja sama dengan PBB itu diharapkan dapat mengatasi masalah terkait makanan, seperti degradasi lahan, pemborosan produk, fluktuasi harga tanaman, dan malnutrisi.

Di bawah program tiga tahun, Rabobank akan membantu kemajuan teknologi pertanian di daerah tertinggal dengan menyediakan fasilitas pembiayaan sambil melibatkan kliennya dari seluruh dunia untuk berbagi pengetahuan teknis mereka. Program ini juga berusaha mendorong inovasi makanan dan pertanian dengan mendanai para petani pemula.

“Upaya tersebut dalam rangka mewujudkan permintaan PBB untuk meningkatkan produksi pangan sebesar 60 persen pada tahun 2050 mendatang,” tambah Boogaard. “Saat ini, ada lima proyek di bawah kampanye Kickstart Food, termasuk program penanaman kembali di Indonesia dan sebuah inisiatif untuk mendukung produksi beras kering dengan perusahaan yang berbasis di Singapura.”

Loading...