Kontraksi Manufaktur AS Goyang Dolar, Rupiah Melenggang di Pembukaan

Meski pesimisme pemerintah terhadap pertumbuhan dalam negeri bisa mempertahankan sentimen negatif dari , namun tetap diprediksi mampu menguat pada akhir pekan ini (2/9). Pasalnya, indeks dolar AS sedang digoyang data manufaktur AS yang mengalami kontraksi sepanjang .

Seperti diwartakan Index, rupiah mengawali perdagangan hari ini dengan penguatan sebesar 14 poin atau 0,11% ke level Rp13.255 per dolar AS. Kemudian, pada pukul 08.24 WIB, spot kembali naik tipis 1 poin atau 0,01% ke posisi Rp13.268 per dolar AS. Sementara itu, indeks dolar AS juga terpantau menguat 0,019 poin atau 0,02% ke level 95,672 di awal dagang.

“Rupiah berpeluang menguat hari ini meski pesimisme pemerintah terhadap pertumbuhan bisa mempertahankan sentimen negatif dari domestik,” ujar Ekonom Samuel Sekuritas Indonesia, Rangga Cipta. “Pasalnya, indeks dolar AS tengah terkoreksi lagi hingga dini hari tadi yang dipicu indeks manufaktur AS yang memburuk.”

Aktivitas manufaktur di AS secara tak terduga mengalami kontraksi pada bulan Agustus, untuk pertama kalinya dalam enam bulan, di tengah merosotnya pesanan dan yang meningkatkan kekhawatiran atas melemahnya industri. Indeks manufaktur Institute for Supply Management (ISM) turun ke level 49,4 dari sebelumnya 52,6 di bulan Juli.

Menurunnya manufaktur AS tersebut menimbulkan beberapa keraguan apakah ekonomi AS dapat tumbuh di atas tren sebelum The Fed mengambil langkah kenaikan suku bunga. “Ekspektasi kenaikan suku bunga telah sedikit menurun mengingat keinginan melihat rangkaian data yang kuat untuk mendukung harapan tersebut,” kata Kepala Investasi BMO Private Bank, Jack Ablin.

Malam nanti, fokus akan beralih ke data pertambahan non-pertanian AS yang diperkirakan lebih rendah. Analis sendiri memperkirakan laporan pada bulan Agustus akan menunjukkan pertumbuhan sebanyak 180.000.

Loading...