Konsumsi Lamban, Pendapatan Produsen Makanan Olahan Turun

Makanan Olahan - www.nogarlicnoonions.com

JAKARTA – Beberapa olahan terbesar di Indonesia melaporkan pendapatan yang ‘tidak menggembirakan’ dalam sembilan bulan pertama tahun 2017, yang oleh beberapa dikatakan berasal dari situasi yang ‘menantang’. Pada tahun depan, prospek pendapatan juga diprediksi tidak jauh lebih baik seiring dengan meningkatnya persaingan sehingga terus menekan harga.

Seperti disitat Nikkei, salah satu perusahaan makanan terbesar dan produsen mi instan, Indofood Sukses Makmur, mengatakan bahwa pendapatan mereka memang 6,5 persen secara tahunan (year-on-year) menjadi Rp53,1 triliun selama periode Januari-September 2017. Namun, laba bersihnya hanya naik 1,2 persen menjadi Rp3,28 triliun, atau jauh dibandingkan laba yang mencapai 40 persen untuk keseluruhan tahun 2016.

“Kondisi belum membaik secara signifikan di sepanjang kuartal ketiga tahun 2017 ini,” ujar Presiden dan Chief Executive Indofood, Anthoni Salim dalam sebuah pernyataan pada hari Selasa (31/10) lalu. “ konsumen yang bergerak cepat tetap terjaga, sementara persaingan terus meningkat.”

Sementara, Charoen Pokphand Indonesia, unit lokal konglomerat asal Thailand, Charoen Pokphand Group, mengalami penurunan pendapatan bersih sebesar 22 persen menjadi Rp1,9 triliun rupiah, meskipun ada kenaikan 33 persen pada penjualan menjadi Rp37,5 triliun . Laporan keuangan perusahaan menunjukkan bahwa hal ini disebabkan oleh kenaikan biaya produksi.

Unilever Indonesia juga mencatat pertumbuhan yang melambat. Penjualan untuk periode Januari-September 2017 hanya naik 3,7 persen menjadi Rp31,2 triliun. Setelah mengalami peningkatan penjualan sekitar dua digit di periode 2013-2016, produk makanan dan minuman, yang menyumbang sepertiga dari penjualan, hanya mampu mengalami kenaikan 7,1 persen (year-on-year) di rentang Januari-September 2017, sedangkan penjualan produk rumah dan pribadi hanya tumbuh 2,1%.

“Prospek tahun 2018 tidak akan jauh lebih baik seiring meningkatnya persaingan yang terlihat terus menekan harga. Kompetisi akan berlanjut, baik dari pemain lokal maupun pemain internasional,” ujar Kepala Keuangan dan Direktur Keuangan Unilever Indonesia, Tevilyan Yudhistira Rusli. “Pertumbuhan pasar akan sedikit banyak seiring dengan pertumbuhan PDB.”

Ia lalu ‘menyalahkan’ perlambatan konsumsi rumah tangga karena untuk pertama kalinya sejak tahun 2014 lalu, konsumsi rumah tangga Indonesia turun selama semester pertama 2017, seperti yang dilaporkan Bank Indonesia dan Citi Research. Dia pun mengharapkan agar kemampuan orang untuk berbelanja tidak mengalami penurunan karena kepercayaan konsumen dan bisnis meningkat, juga penghematan.

“Apa yang meningkat adalah tabungan. Jadi, orang saat ini telah lebih banyak menyimpan uang mereka di bank,” sambung Rusli. “Jika Anda menganalisis data bank, maka Anda akan menemukan bahwa simpanan mereka terus meningkat.”

Loading...