Konflik AS-China Kembali Mendidih, Rupiah Gagal Menguat

rupiah - ekbis.sindonews.comrupiah - ekbis.sindonews.com

Tensi antara AS dengan yang kembali mendidih membuat greenback bergerak lebih rendah, namun gagal dimanfaatkan rupiah untuk berbalik menguat. Menurut paparan Index pukul 15.59 WIB, mata uang Garuda harus menyudahi transaksi Selasa (3/4) ini dengan pelemahan sebesar 11 poin atau 0,08% ke level Rp13.764 per dolar AS.

Sebelumnya, rupiah sudah ditutup terdepresiasi 25 poin atau 0,18% di posisi Rp13.753 per dolar AS pada Senin (2/4) kemarin. Tren negatif mata uang NKRI berlanjut pagi tadi dengan dibuka melemah tipis 4 poin atau 0,03% ke level Rp13.757 per dolar AS. Sepanjang transaksi hari ini, spot praktis tidak memiliki otot untuk keluar dari teritori merah, mulai awal hingga akhir dagang.

Sementara itu, Bank menetapkan kurs tengah pada hari ini berada di level Rp13.765 per dolar AS, turun 15 poin atau 0,10% dari perdagangan sebelumnya di posisi Rp13.750 per dolar AS. Di saat yang bersamaan, mayoritas mata uang tidak berdaya versus greenback, dengan pelemahan terdalam sebesar 0,21% menghampiri won Korea Selatan.

Dari pasar global, indeks dolar AS sebenarnya bergerak lebih rendah pada transaksi hari ini, seiring dengan kembali memanasnya tensi perdagangan antara AS dan China. Mata uang Paman Sam terpantau melandai 0,059 poin atau 0,07% ke level 89,993 pada pukul 10.51 WIB, serta menuju posisi 105,87 terhadap yen Jepang.

Tensi dagang antara AS dan China kembali mendidih setelah Negeri Tirai Bambu memberlakukan sebesar hingga 25% terhadap 128 AS, sehingga meningkatkan ketegangan antara dua negara ekonomi terbesar di dunia tersebut. Di sisi lain, yen, sebagai aset safe haven, cenderung lebih diuntungkan selama masa pergolakan politik dan finansial global.

“Mengingat betapa rapuhnya pasar ekuitas sekarang, saya pikir perdagangan yang jelas adalah dolar AS bakal bergerak lebih rendah terhadap yen,” tutur kepala perdagangan di Asia-Pasifik untuk OANDA di Singapura, Stephen Innes, seperti dikutip Reuters. “Saya tidak berpikir bahwa akan mencari aset risiko terlalu cepat sampai sesuatu yang positif berkembang di pasar.”

Loading...