Kompetisi Kian Ketat, Keuntungan Maskapai Penerbangan Asia Melorot

Maskapai Penerbangan Asia - bhq.web.idMaskapai Penerbangan Asia - bhq.web.id

SINGAPURA/HONG KONG – Persaingan maskapai di Asia semakin tahun semakin ketat, selain dengan kompetitor lawas, juga serbuan e-commerce dan operator dari China yang menawarkan atau lebih murah. Hal tersebut memaksa banyak maskapai untuk melakukan restrukturisasi , termasuk menggunakan pembayaran digital dan menawarkan tiket dengan harga yang lebih murah, yang sayangnya justru menurunkan keuntungan mereka.

Berdasarkan salah satu ulasan Nikkei, Singapore Airlines telah mencoba untuk mengenakan biaya hingga 50 dolar AS kepada untuk memesan salah satu kursi paling murah dengan hanya menggunakan kartu kredit, namun gagal. Sementara, AirAsia telah mendapatkan tekanan dari maskapai Teluk Persia, seperti Emirates Airlines dan Qatar Airways, untuk penerbangan premium rute jarak jauh.

“Persaingan menjadi semakin ketat dan Anda memiliki banyak pesaing agresif akhir-akhir ini,” kata Brendan Sobie, analis utama di CAPA, kepada Nikkei baru-baru ini. “Untuk melawannya, perusahaan penerbangan berada di tengah upaya restrukturisasi yang serius, mencari cara baru untuk menghasilkan uang dan mengurangi biaya secara tergesa-gesa.”

Cathay Pacific, yang memulai restrukturisasi setelah mengalami kerugian tahunan pada 2016, berencana untuk menekan pelanggan kelas ekonominya. Kabin Boeing 777-300 yang baru akan memuat 10 kursi yang lebih kecil dari sembilan kursi saat ini. Yang lebih rentan adalah Malaysia Airlines, yang selama satu dekade telah terlibat dalam ‘perang harga’ dengan maskapai AirAsia.

Maskapai penerbangan nasional tersebut dikelola swasta setelah dua kecelakaan yang menghancurkan pesawat pada tahun 2014, dan telah memulai restrukturisasi lima tahun. Namun, rencana itu tampak bermasalah setelah CEO mereka tiba-tiba mengumumkan pengunduran dirinya pada bulan Oktober 2017, hanya setahun setelah menerima pekerjaan tersebut. Dia adalah CEO kedua yang dipekerjakan untuk melaksanakan upaya reformasi.

Benang merah untuk maskapai di kawasan Asia adalah penurunan harga tiket pesawat yang cukup signifikan. Hasil dari tiap penumpang, pendapatan yang diterima maskapai penerbangan untuk menerbangkan satu penumpang untuk jarak satu kilometer, anjlok selama tiga tahun berturut-turut dari tahun 2014 sampai 2016, menurut International Air Transport Association (IATA). Yang lebih ironis, hal ini terjadi di kawasan dengan pertumbuhan permintaan penumpang tercepat di dunia.

Untuk merasakan tahun pertumbuhan penumpang yang meningkat di masa depan, maskapai penerbangan Asia banyak berinvestasi di pesawat terbang baru. Boeing memperkirakan bahwa kawasan Asia Pasifik akan menerima pengiriman 16.050 pesawat baru dalam 20 tahun ke depan, mendekati 40% dari total global. Operator di Asia Tenggara memiliki 1.600 pesawat untuk menambah armada aktif yang mendekati 2.000 unit di ini, menurut CAPA, dan maskapai penerbangan berbiaya rendah menyumbang sekitar 70% pesanan.

Selain itu, perombakan juga akan dilakukan di sektor pembayaran. CEO AirAsia Group, Tony Fernandes, telah merencanakan perombakan perusahaan yang lebih besar yang akan mendorongnya lebih jauh ke pembayaran digital, e-commerce, dan ritel. Dia memperkuat infrastruktur digital AirAsia dengan tujuan untuk mendorong penawaran kepada pelanggan melalui teknologi seperti kecerdasan buatan dan internet.

Prakarsa digitalisasi juga merupakan bagian dari reorganisasi kelompok untuk menciptakan struktur perusahaan yang lebih ramping. AirAsia, yang memiliki afiliasi di India, Indonesia, Jepang, Filipina, dan Thailand melalui usaha patungan, telah mengusulkan untuk menukar saham mitra menjadi saham di perusahaan induk. Hal ini untuk merampingkan struktur kelompoknya, dengan tujuan jangka panjang untuk mencapai kepemilikan penuh setiap unit.

Maskapai juga agaknya mulai fokus pada pergeseran destinasi pelancong. Maskapai penerbangan China telah mendorong penerbangan jarak jauh dengan ketat, dengan Air China dan Hainan Airlines menambahkan rute baru ke AS. Sementara, Hong Kong Airlines tahun lalu meluncurkan penerbangan dari Hong Kong ke Auckland, Vancouver, dan Los Angeles dengan harga tiket jauh lebih murah daripada harga milik Cathay.

Sebagai tanggapan, Cathay memperluas jaringan global mereka dengan menambahkan lebih banyak penerbangan jarak jauh. Tahun lalu, maskapai ini mengumumkan melakukan penerbangan nonstop baru ke Washington dari Hong Kong. Penerbangan 17 jam tersebut akan memangkas dua jam perjalanan dan menjadi rute komersial paling lama yang berjalan di Hong Kong.

“Banyak pelancong mengeluh tentang Cathay, tetapi mereka terus menggunakan maskapai Cathay,” kata Geoffrey Cheng, kepala penelitian dan di BOCOM International Holdings. “Meski kehilangan beberapa pangsa pasar, Cathay masih memiliki supremasi di kalangan pengusaha bisnis dan orang-orang kaya yang bersedia membayar ekstra untuk ketepatan waktu dan layanan yang lebih baik.”

Loading...