Klaim Pengangguran AS Turun, Rupiah Berakhir Melemah Tajam

Rupiah - www.aktual.comRupiah - www.aktual.com

JAKARTA – Rupiah harus rela terbenam cukup dalam di area merah pada perdagangan Jumat (26/2) sore ketika imbal hasil AS melonjak menuju posisi tertinggi, menyusul klaim AS yang dilaporkan menurun. Menurut paparan Index pada pukul 14.59 WIB, Garuda ditutup melemah 152,5 poin atau 1,08% ke level Rp14.235 per dolar AS.

Sementara itu, data yang diterbitkan Bank pukul 10.00 WIB menempatkan kurs acuan Jakarta Interbank Spot Dollar Rate (JISDOR) berada di posisi Rp14.229 per dolar AS, terdepresiasi 125 poin atau 0,89% dari sebelumnya di level Rp14.104 per dolar AS. Di saat yang bersamaan, mayoritas mata uang juga tidak berdaya melawan greenback, termasuk won Korea Selatan dan ringgit Malaysia.

Menurut analisis CNBC Indonesia, aset berisiko sedang down lantaran yield obligasi AS kembali mengalami kenaikan. Yield Treasury AS tenor 10 tahun terpantau melonjak ke atas 1,5% atau posisi tertinggi sejak Februari 2020. Lonjakan imbal hasil ini karena ada ekspektasi inflasi yang meningkat seiring ekonomi yang perlahan pulih dari pandemi Covid-19.

Data paling baru dari Departemen Tenaga Kerja AS menyebutkan, klaim tunjangan pengangguran AS pekan lalu sebesar 730.000, atau turun jika dibandingkan minggu sebelumnya yang sebesar 841.000. Angka yang merupakan posisi terendah sejak November 2020 ini juga jauh di bawah konsensus yang dihimpun Reuters yang memperkirakan angka 838.000.

“Semakin tinggi imbal hasil obligasi, semakin kami melihat dorongan untuk keluar dari saham,” kata mitra pengelola di Cornerstone Wealth, di Huntersville, North Carolina, Jeffrey Carbone. “Investor mengambil untung dari saham dan memindahkannya ke area yang lebih konservatif untuk mendapatkan imbal hasil yang lebih tinggi di pasar obligasi.”

Dikutip dari Reuters, obligasi pemerintah, dan khususnya Departemen AS, telah menjadi titik fokus pasar secara , yang telah bergerak secara agresif dalam pengetatan moneter sebelumnya daripada yang diisyaratkan oleh Federal Reserve dan rekan-rekannya. Penurunan yen terjadi bahkan di tengah aksi jual saham, karena lonjakan imbal hasil memicu kekhawatiran inflasi.

Loading...