Klaim Pengangguran AS Tinggi, Rupiah Berakhir Melemah

Rupiah - m.harianjogja.comRupiah - m.harianjogja.com

JAKARTA – Rupiah praktis tidak memiliki kekuatan untuk bangkit ke area hijau pada Jumat (19/2) sore ketika data terbaru klaim pengangguran AS menunjukkan bahwa pemulihan ekonomi masih jauh dari harapan. Menurut laporan Index pada pukul 14.59 WIB, Garuda berakhir melemah 40 poin atau 0,29% ke level Rp14.065 per AS.

Sementara itu, data yang diterbitkan pukul 10.00 WIB menetapkan acuan Jakarta Interbank Spot Dollar Rate (JISDOR) berada di posisi Rp14.085 per dolar AS, terdepresiasi 0,18% dari sebelumnya di level Rp14.059 per dolar AS. Di saat yang hampir bersamaan, mayoritas mata uang juga tidak berdaya melawan , menyisakan yuan China di area hijau.

Menurut analisis CNBC Indonesia, investor memilih bermain aman karena data ekonomi terbaru menunjukkan bahwa jalan menuju pemulihan ekonomi akibat pandemi virus corona rasanya masih panjang dan melelahkan. Pandemi terlanjur meninggalkan luka yang terlampau dalam sehingga butuh waktu untuk disembuhkan.

Di AS, jumlah klaim tunjangan pengangguran pada pekan yang berakhir 13 Februari 2021 tercatat baik 13.000 dibandingkan minggu sebelumnya, menjadi 861.000. Angka ini jauh di atas konsensus pasar yang memprediksi jumlah klaim 765.000. “Walau sepertinya ekonomi pada kuartal I 2021 menunjukkan perbaikan, tetapi belum menular ke pasar tenaga kerja,” ujar senior economic advisor di Brean Capital, Conrad DeQuadros.

Dari pasar , indeks dolar AS masih harus berjuang untuk mengembalikan kekuatan pada hari Jumat, setelah data pasar tenaga kerja AS yang mengecewakan memudarkan optimisme ekonomi yang lebih cepat dari pandemi COVID-19. Mata uang Paman Sam terpantau melemah 0,136 atau 0,15% ke level 90,456 pada pukul 14.53 WIB.

Seperti diwartakan Reuters, greenback terus melawan peran tradisionalnya sebagai mata uang safe haven, setelah kenaikan tak terduga dalam klaim pengangguran mingguan memperburuk prospek ekonomi. Rangkaian data tenaga kerja yang negatif membebani dolar AS, bahkan ketika indikator lain telah menunjukkan ketahanan, dan seiring upaya bantuan pandemi dari Presiden AS, Joe Biden, mulai terbentuk.

“Prospek stimulus fiskal AS yang besar ditambah peluncuran vaksin yang sukses adalah argumen yang kuat untuk bertaruh pada pemulihan AS tahun ini,” tulis ahli strategi valuta asing senior di National Bank di Sydney, Rodrigo Catril, dalam suatu catatan. “Namun, data klaim pengangguran semalam berfungsi sebagai pengingat akan pemulihan yang tidak merata sejauh ini.”

Loading...