Kinerja Dolar AS Masih Lesu, Kurs Rupiah Dibuka Menguat 19 Poin

Jakarta – Pada awal pagi hari ini, Rabu (3/1), dibuka 19 poin atau 0,14 persen ke posisi Rp 13.495 per AS. Sebelumnya, Selasa (2/1), Garuda berakhir terapresiasi 0,30 persen atau 41 poin ke level Rp 13.514 per USD setelah diperdagangkan pada rentang angka Rp 13.504 hingga Rp 13.554 per dolar AS.

Sementara itu, indeks dolar AS terpantau melemah terhadap sejumlah mata uang utama di tengah ekspektasi para pelaku terkait kenaikan yang lebih lambat oleh . Indeks dolar AS dilaporkan turun 0,38 persen menjadi 91,893 di akhir perdagangan Selasa atau Rabu pagi WIB terhadap 6 mata utama. Angka tersebut merupakan level terendah dalam 3 bulan dan indeks dolar AS telah turun lebih dari 9 persen pada tahun 2017.

Dilansir Xinhua, kinerja the Greenback yang melemah dianggap masih melanjutkan kinerja tahun 2017 yang merupakan tahun terburuk dalam sejarah mata uang ini sejak tahun 2003. Menurut para analis, kini ragu akan prospek untuk menaikkan suku bunga acuan hingga 3 kali pada tahun 2018. Pasalnya data inflasi Amerika Serikat dinilai sangat buruk.

Analis Monex Investindo Futures Putu Agus Pransuamitra berpendapat jika dolar As saat ini cenderung tertekan lantaran sejumlah negara tengah bersiap untuk melakukan pengetatan kebijakan moneter karena yang mulai membaik. Misalnya saja European Central Bank (ECB) yang mulai mengurangi stimulus dan Bank of England (BoE) yang akan menaikkan suku bunga.

Diumumkan data inflasi Indonesia pada akhir tahun lalu juga turut memberikan suntikan positif pada gerak rupiah di pasar spot. Pada Desember 2017 lalu, inflasi month to month (MoM) naik tipis 0,71 persen dan secara year on year (YoY) mengalami kenaikan 3,61 persen. “Realisasi tingkat inflasi Desember tersebut masih sesuai target Bank Indonesia. Tambah lagi, defisit anggaran 2017 juga lebih rendah dari APBNP. Hal ini menjadi sentimen positif bagi rupiah,” tandas Ekonom Bank Permata Josua Pardede, seperti dilansir Kontan.

Loading...