Kian Berjaya, Rupiah Ditutup Menguat ke Rp 13.085 Per Dolar AS

Jakarta Amerika Serikat (AS) semakin tak berdaya terhadap sejumlah rivalnya di spot exchange. Pada , Rabu (7/9) Garuda ditutup 42 poin atau 0,32 persen ke angka Rp 13.085 per AS.

Berdasar data dari Bloomberg Index, pagi tadi mengawali dengan penguatan 34 poin atau 0,26% ke Rp 13.093 per dolar AS. Kemudian pukul 14.30 WIB terpantau ada di posisi Rp 13.080 per dolar AS atau 47 poin (0,36%). Sepanjang hari ini ini mata uang diperdagangkan di kisaran Rp 13.042 hingga Rp 13.119 per dolar AS.

Tren penguatan rupiah ini terjadi usai data ekonomi AS yang dirilis ternyata lebih buruk dari perkiraan. Institute for Supply Management melaporkan pada Selasa kemarin bawah indeks manajer pembelian (PMI) non-manufaktur hingga 51,4, perolehan terendah sejak Februari 2010, dari 55,5 pada bulan Juli.

Perolehan tersebut lebih rendah dari survei yang dilaksanakan Bloomberg, yakni 54,9 dengan rentang prediksi 52,6 – 56,6. “Data dari ISM terakhir yang lemah sangat mengejutkan, dan saya pikir probabilitas kenaikan suku bunga bulan ini menjadi semakin lebih sulit dan tidak mungkin, ujar analis valas senior di Toronto-Dominion Bank, Mazen Issa.

Sementara itu para investor masih menganalisis lebih lanjut laporan penggajian (payroll) non-pertanian belum lama ini. Total penggajian pekerjaan non-pertanian AS naik 151.000 pada Agustus dan tingkat tetap berada pada persentase 4,9%.

Penggajian non-pertanian telah melemahkan harapan terkait kemungkinan kenaikan suku bunga untuk bulan September ini. Indeks dolar yang mengukur kekuatan the greenback terhadap 6 mata uang utama mengalami penurunan 1,08 persen ke angka 94,810 di akhir perdagangan Selasa.

Loading...