Keuangan Mikro Syariah dan Fintech ‘Lepas Landas’ di Asia

Keuangan Mikro Syariah - id.linkedin.com

JAKARTA/SINGAPURA – berbasis kini menjadi bagian dari gelombang baru di , tempat tinggal bagi pertumbuhan pesat populasi dan yang terus meningkat. Selain perbankan, banyak organisasi non-pemerintah dan keuangan yang lebih kecil menyediakan layanan mikro dan layanan syariah , serta memadukannya dengan fintech.

Secara teknis, syariah menghindari kenaikan bunga, yang dilarang berdasarkan syariah atau Islam. Operasi mereka dibiayai bersama dengan peminjam, dan setiap keuntungan dibagi dengan peminjam. Menghindari investasi lembaga yang bergerak di bidang yang dianggap tabu, seperti alkohol dan pornografi, segmen keuangan ini juga merangkul dua pilar baru, yaitu layanan keuangan mikro dan fintech.

Di Indonesia, laporan Nikkei menuliskan, sekitar 50 sampai 60 persen orang dewasa belum memiliki bank, dan keuangan mikro syariah mulai mengisi kesenjangan ini. Sampai akhir 2016, BTPN Syariah memiliki sekitar 2,58 juta pelanggan keuangan mikro, dengan saldo pinjamannya mencapai Rp5,8 triliun per September 2017, yang setara dengan sekitar 9 persen dari total pinjaman konsolidasi induknya, Bank Tabungan Pensiunan Nasional.

Sekitar 1,7 juta nasabah keuangan mikro BTPN Syariah melakukan deposit dan mentransfer uang melalui telepon seluler, menunjukkan bahwa bank tersebut menjangkau daerah-daerah terpencil yang belum disinggahi cabang mereka. Peminjam, seperti orang-orang di Desa Kasaman, biasanya menciptakan kelompok, biasanya lima orang, untuk menarik dana.

“Peminjam membayar dana pokok ditambah 30 persen per tahun. Ini memang lebih tinggi dibandingkan dengan pinjaman konvensional, namun nasabah tidak perlu memasang agunan. Agunan adalah wajah,” jelas Direktur Utama BTPN Syariah, Ratih Rachmawaty. “Mereka hanya perlu ‘menunjukkan wajah’ mereka kepada kami per dua mingguan.”

Seiring dengan BTPN Syariah, banyak organisasi non-pemerintah dan lembaga keuangan yang lebih kecil menyediakan layanan ini, serta memadukan dengan fintech. Matthew Joseph Martin, kelahiran AS, menciptakan situs web crowdfunding yang mengumpulkan uang dari berbagai investor dan menyalurkannya ke bisnis keuangan mikro syariah yang dapat menghasilkan keuntungan yang stabil. Dana yang diperoleh melalui situs diinvestasikan pada penyedia keuangan mikro syariah dan institusi lainnya, dan pihak-pihak ini, pada gilirannya, memasok dana ke peminjam.

Di samping itu, ada Ethis, yang dipimpin oleh CEO Umar Munshi yang baru berusia 34 tahun. Startup ini menjalankan situs EthisCrowd.com, yang meningkatkan dana untuk bisnis perumahan dan infrastruktur berpenghasilan rendah di Indonesia. Meski berkantor pusat di Singapura, Munshi lebih ingin bekerja di Malaysia, karena menganggap negara tersebut ‘lebih baik’ untuk (mengamankan) talenta untuk keuangan Islam.

EthisCrowd.com memiliki sekitar 20.000 investor institusional dan individual yang terdaftar pada akhir Agustus 2017. Banyak institusi yang berasal dari Eropa dan Timur Tengah, sementara sebagian besar individu berada di Singapura. Pengembalian investasi perumahan, misalnya, mencapai 10-15 persen per tahun, namun Munshi dengan cepat menekankan risikonya, seperti penundaan pembangunan.

Layanan yang menjanjikan seperti ini meningkatkan harapan di industri keuangan Islam yang telah menderita dari merosotnya harga minyak mentah sejak paruh akhir tahun 2014. Ada sekitar 2 miliar orang dewasa tanpa rekening bank di seluruh dunia, menurut laporan World Bank tahun 2015, dan Muslim di Asia serta Afrika dianggap ‘bertanggung jawab’ untuk sebagian besar data ini.

“Ada kemungkinan mereka akan menjadi pengguna fintech Islam,” kata seorang peneliti di Nomura Institute of Capital Markets Research di Singapura, Yohei Kitano. “Kelas menengah yang berkembang di negara-negara berpenduduk mayoritas Muslim di Asia juga akan mulai mencari cara untuk menggunakan dana surplus mereka.”

Loading...