Surprise, Rupiah Berakhir Menguat Saat Pasar Dikurung Ketidakpastian

Rupiah menguat pada perdagangan Jumat (25/9) sore - www.wartaekonomi.co.id

JAKARTA – Tanpa diduga, rupiah ternyata mampu menghimpun tenaga untuk bangkit ke area hijau pada Jumat (25/9) sore ketika kondisi global diliputi berbagai ketidakpastian, termasuk kondisi jelang pemilihan . Menurut laporan Index pada pukul 14.58 WIB, Garuda memungkasi transaksi dengan 17,5 poin atau 0,12% ke level Rp14.872,5 per dolar AS.

Sementara itu, data yang dirilis pukul 10.00 WIB tadi menetapkan tengah berada di posisi Rp14.951 per dolar AS, terdepresiasi tipis 2 poin atau 0,01% dari transaksi sebelumnya di level Rp14.949 per dolar AS. Di saat yang bersamaan, mata uang bergerak variatif, dengan kenaikan tertinggi sebesar 0,24% dialami yuan China dan pelemahan terdalam sebesar 0,45% menghampiri rupee India.

“Rupiah masih akan melanjutkan pelemahannya di perdagangan akhir pekan ini. Penyebab utamanya karena pelemahan pasar modal di AS yang kemudian merambat ke bursa Asia,” prediksi Ekonom Bank Central Asia, Josua Pardede, dilansir Kontan, pagi tadi. “Sentimennya didominasi eksternal, karena ketidakpastian yang meningkat, terlebih jelang pemilu AS.”

Dari pasar global, indeks dolar AS harus merosot dari posisi puncak dua bulan pada hari Jumat karena harapan baru akan stimulus baru AS meredakan kekhawatiran tentang pemulihan ekonominya, sementara yuan China menguat setelah negara itu ditambahkan ke patokan obligasi global. Mata uang Paman Sam terpantau melemah tipis 0,093 poin atau 0,10% ke level 94,261 pada pukul 14.51 WIB.

“Saya pribadi berpikir kenaikan dolar AS dan perdagangan risk-off dapat berlanjut. Liputan berita AS semakin didominasi oleh pemilu. Ketidakpastian kemungkinan akan membebani pasar, “ kata kepala FX sales State Street Bank’s Tokyo Branch, Kazushige Kaida, dilansir Reuters. “Itu juga terkait apakah akan ada paket ekonomi lain. Tidak ada yang mengharapkan kesepakatan sebelum pemilihan, tetapi ekonomi memang membutuhkan semacam bantuan pada akhir tahun seperti yang dikatakan pejabat The Fed belakangan ini.”

Data terbaru menunjukkan jumlah orang AS yang mengajukan klaim untuk tunjangan pengangguran secara tak terduga meningkat minggu lalu, menandakan pemulihan ekonomi mulai kehabisan tenaga karena infeksi dan kematian terus meningkat. Investor juga gelisah setelah Presiden AS, Donald Trump, menolak berkomitmen untuk menyerahkan pemerintahan secara damai jika dia kalah dalam pemilihan.

Loading...