Ketegangan Geopolitik Tekan Dolar, Rupiah Berakhir Positif

Ketegangan geopolitik yang melibatkan AS dengan Korea Utara dan Suriah membuat pergerakan the sedikit tertekan sehingga mampu dimanfaatkan untuk bergerak menguat. Menurut catatan Index pukul 15.59 WIB, Garuda memungkasi perdagangan Selasa (11/4) ini dengan penguatan 5 poin atau 0,04% ke level Rp13.281 per dolar AS.

Rupiah mengawali transaksi dengan 6 poin atau 0,05% ke posisi Rp13.280 per dolar AS. Istirahat siang, mata uang Garuda bergerak stagnan di level Rp13.286 per dolar AS. Jelang penutupan atau pukul 15.31 WIB, spot masih bertahan di zona setelah kembali menguat tipis 4 poin atau 0,03% ke posisi Rp13.282 per dolar AS.

Indeks dolar AS memang cenderung usai Gubernur The Fed, Janet Yellen, dianggap lembut atau kurang agresif dalam mendukung greenback. Pasalnya, tersebut akan mengurangi neraca keuangan atau balance sheet pada tahun 2018 mendatang. “The Fed akan mengurangi neraca keuangan sehingga kenaikan suku bunga lebih rendah dari perkiraan,” ujar Ekonom Bank Permata, Josua Pardede.

Selain dari faktor The Fed, pelemahan indeks dolar AS juga disebabkan kekhawatiran di tengah ketegangan AS dengan Korea Utara dan Suriah yang mengimbangi harapan kenaikan suku bunga. Kemungkinan aksi milter AS dalam menanggapi tes nuklir jarak jauh Korea Utara meningkatkan ketegangan setelah serangan Paman Sam terhadap Suriah pada pekan lalu.

“Kenaikan suku bunga AS dan pengurangan neraca The Fed tetap menjadi faktor kunci yang membuat mengambil posisi dolar AS,” ujar Kepala Analis Valuta Asing Daiwa Securities, Mitsuo Imaizumi. “Namun, ada posisi yang meningkat setiap kali risk aversion naik. Setiap kali ada berita tentang terorisme, atau Suriah, atau Korea Utara, ada beberapa penyesuaian posisi.”

Sementara itu, siang tadi Bank mematok kurs tengah berada di level Rp13.282 per dolar AS, melonjak 41 poin atau 0,31% dibandingkan perdagangan sebelumnya di posisi Rp13.323 per dolar AS. Di saat yang bersamaan, mayoritas mata uang Asia bergerak melemah terhadap dolar AS, dengan pelemahan terdalam dialami won Korea Selatan sebesar 0,62% dan yen Jepang sebesar 0,24%.

Loading...