Kerajinan Tempat Tisu Khas Bali Sukses Tembus Pasar Mancanegara

Singaraja – Salah satu desa di Kabupaten Buleleng yang bernama Aga berhasil mendapatkan omzet hingga Rp 30 juta per bulan hanya dengan bermodal kerajinan anyaman bambu. Sebagai sentra kerajinan anyaman bambu, -produk handicraft dari Desa Bali Aga ternyata mampu menembus pasar , Italia, hingga .

Menurut salah satu pengrajin anyaman bambu, Gede Widarma, produk-produk khas Bali buatannya ini mayoritas diminati oleh wisatawan mancanegara. “Peminat kerajinan bambu saat ini relatif tinggi dari berbagai kalangan, serta didominasi wisatawan asing,” ungkapnya.

Terbukti, kerajinan berupa kotak tisu (tissue box) yang dikombinasikan dengan uang kepeng sesuai ciri khas Pulau Dewata Bali ini bisa laku terjual hingga ke luar negeri lewat beberapa art shop yang terdapat di Bali.

“Dari 1999 kami bekerjasama dengan beberapa art shop di Bali untuk pemasaran kerajinan khas Buleleng, hingga saat ini pesanan selalu mengalami peningkatan dengan pengiriman mencapai 100 hingga 150 pcs sekali kirim,” paparnya. “Beberapa kerajinan kami hampir tak pernah ada stok dikarenakan permintaan selalu tinggi,” imbuh Gede Widarma.

Kerajinan kotak tisu yang paling disukai adalah dengan kombinasi yang mulai Rp 125.000 hingga Rp 150.000 per buah. Selain dari anyaman bambu, banyak juga tempat tisu khas Bali yang memakai dari kayu. Tempat tisu dari kayu dengan yang lebih murah, sekitar Rp 20.000 hingga Rp 39.000 per buah.

Loading...