Kemenperin Ingin Bisnis MRO Pesawat Dikembangkan di Indonesia

Jakarta – Dalam 20 tahun ke depan, pusat perawatan diprediksi akan berpusat di Pasifik. Alasan inilah yang mendasari Dirjen ILMATE Kemenperin I Gusti Putu Suryawirawan, mendorong agar perawatan pesawat atau Maintenance, Repair and Overhaul (MRO) segera dikembangkan di .

Dikatakan oleh Putu, bisnis MRO merupakan industri yang strategis. Sebab, industri ini memanfaatkan tinggi dan mempekerjakan tenaga kerja berkompetensi tinggi.

“MRO merupakan industri berkarakteristik khusus karena capital intensive sekaligus labor intensive. Perbaikan pesawat tidak bisa diotomatisasi sehingga jumlah SDM harus tersedia dengan kemampuan unggul, salah satunya melalui politeknik yang fokus ke industri dirgantara,” katanya, Rabu (13/4).

Menteri Perindustrian Saleh Husin juga menegaskan hal yang sama saat menerima Asosiasi Jasa Perawatan Pesawat Indonesia atau Indonesia Aircraft Maintenance Services Association (IAMSA), di Jakarta, Selasa malam (12/4).

Menurut Menperin, Indonesia sebagai salah satu sumbu lalu lintas udara di Asia dan memiliki peluang besar untuk menjadi basis industri Aerospace. DI Indonesia, tercatat ada 63 maskapai nasional dengan populasi 657 pesawat, yang didominasi pesawat jenis Boeing 737 Series sebanyak 231 unit. Jumlah ini masih ditambah dengan 182 pesawat lain milik perkebunan dan pertambangan serta beberapa sekolah penerbangan.

“Selama ini hanya 30% pesawat yang beroperasi di sini dirawat di Indonesia, sisanya melakukan perawatan di MRO luar negeri. Istilahnya, kita mesti tarik pulang yang 70% ini ke bengkel pesawat sendiri. Kami bidik sebagian besar pesawat dirawat dan di-overhaul di sini,” tutur Menperin.

Peluang bisnis MRO pun tergolong besar. Dari perhitungan Ketua Dewan Pimpinan IAMSA Richard Budihardianto, peluang bisnis MRO didapat dari anggaran pemeliharaan setiap maskapai, sedikitnya sekitar Rp 13,2 triliun per tahun untuk masing-masing maskapai.

Loading...